4 Alasan Film 'Gowok: Kamasutra Jawa' Layak Dinantikan
Film Gowok: Kamasutra Jawa segera tayang pada Juni 2025. (Foto: IMDb)
Merahputih.com - Film Gowok: Kamasutra Jawa segera tayang pada Juni 2025. Film dengan referensi budaya jawa ini, menampilkan profesi yang dianggap tabu dan kontroversial.
Film Gowok: Kamasutra Jawa merupakan salah satu karya yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Produksi film ini sendiri sidah berlangsung sejak 8 Juli 2024.
Sementara itu, film ini sudah ditayangkan secara perdana di International Film Festival Rotterdam (IFFR) pada awal tahun 2025.
Film yang melibatkan banyak artis papan atas tanah air ini, sangat ditunggu-tunggu kehadirannya di layar bioskop Tanah Air.
Lewat trailer berdurasi dua meni, film ini menggambarkan cerita perjalanan sekumpulan perempuan Jawa yang berprofesi sebagai Gowok, 'guru seks' untuk calon mempelai laki-laki sebelum menikah.
Salah satu perempuan Gowok, berharap bisa menikahi muridnya karena perasaan cinta tumbuh antara keduanya. Namun, status sosial masa itu menghalangi hubungan yang tak dikehendaki. Upaya balas dendam bergulir di kehidupan masa depan mereka.
Baca juga:
Alasan Film 'Gowok: Kamasutra Jawa' Layak Dinantikan
1. Pengenalan Budaya Jawa
Zaman dahulu ada sebuah profesi diyakini sebagai guru pra pernikahan. Gowok merupakan representasi guru yang dimaksud dengan konsep dan pendekatan budaya jawa yang kental.
Materi pembelajaran ini bukan diambil asal-asalan. Melainkan bersumber dari Serat Centini, Nitimani, dan Wulangreh.
Gowok mengajarkan muridnya bagaimana menjadi suami yang tegas dan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari. Gowok juga yang mengajarkan keterampilan seksual bagi calon pengantin.
Penonton akan mendapatkan wawasan tentang bagaimana budaya Jawa memandang hubungan intim dan peran wanita dalam masyarakat.
Biasanya, keluarga-keluarga yang melakukan praktik Gowok berasal dari keluarga berada alias bangsawan. Lantaran para gowok ini dibayar, bukan gratis.
Seiring perkembangan zaman, praktik Gowok dianggap tidak relevan. Sekitar peristiwa 65 karena dianggap sebagai praktik prostitusi terselubung.
2. Visual yang Menarik
Film ini mengambil latar cerita pada tahun 60-an, memiliki ambiance visual yang memukau, dengan atmosfer dan desain produksi yang membawa penonton ke era 1960-an di Jawa.
Penonton akan disuguhkan dengan warna-warna yang cerah dan pengaturan yang detail, membuat film ini sangat estetik.
Baca juga:
3. Cerita yang Unik
Gowok: Kamasutra Jawa memiliki cerita yang unik dan menarik, dengan plot balas dendam yang kompleks dan penuh intrik. Penonton akan disuguhkan dengan dinamika hubungan yang rumit antara karakter-karakter utama.
4. Pesan tentang Emansipasi Perempuan
Film ini juga menyampaikan pesan tentang emansipasi wanita dan hak-hak perempuan dalam masyarakat. Penonton akan melihat bagaimana karakter wanita utama memperjuangkan hak-haknya dan menantang norma-norma sosial yang ada. (Tka)
Bagikan
Tika Ayu
Berita Terkait
Joko Anwar Garap Film Fantasi Anak Perdana Bergenre Coming of Age
Flop di Bioskop, A Big Bold Beautiful Journey Coba Peruntungan di Netflix
Tissa Biani Ratu Box Office Indonesia, dari KKN hingga Agak Laen
Tarik 184.960 Penonton di Bioskop Indonesia, Film 'Tinggal Meninggal' Tayang di Netflix
Film 'Agak Laen: Menyala Pantiku' Cetak Rekor Film Terlaris Indonesia, Ditonton Lebih dari 10.250.000
Sejarah Baru Box Office, Agak Laen Jadi Film Indonesia Nomor Satu
Simak Lagi 10 Tayangan Terpopuler Netflix sepanjang 2025, dari 'Squid Game' hingga 'Wednesday'
Sinopsis 'Bidadari Surga' dan Jadwal Tayangnya
'KUYANK', Kisah Cinta, Ramalan, dan Ajian Gelap Berujung Teror
10 Film Indonesia Terlaris di Tahun 2025, 'Jumbo' Tembus 10 Juta Penonton