3 Tantangan Megaproyek Pembangungan 'Bukit Algoritma' Sukabumi

Wisnu CiptoWisnu Cipto - Jumat, 16 April 2021
 3 Tantangan Megaproyek Pembangungan 'Bukit Algoritma' Sukabumi

Penandatanganan pembangunan Bukit Algoritma Silicon Valley Indonesia. (ANTARA/HO)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Rencana Pemerintah Indonesia mengembangkan pembangunan Silicon valley Indonesia atau yang diberi nama Bukit Algoritma di kawasan Sukabumi Jawa Barat belum tentu berjalan mulus.

Insitute of Development of Economics and Finance (INDEF) mengungkapkan sedikitnya ada tiga tantangan yang siap menghadang megaproyek itu.

“Pertama, ekosistem R&D (Research and Develompent) di Indonesia masih sangat rendah,” kata Kepala Center of Innovation and Digital Economy INDEF, Nailul Huda, saat diskusi online di Jakarta, dikutip dari Antara, Jumat (16/4).

Baca Juga:

Jembatan Startup Lokal Indonesia Menuju Silicon Valley dan Status Unicorns

Nailul mengatakan proporsi dana R&D terhadap PDB secara total masih kecil yakni hanya 0,24 persen. Begitu juga dengan proporsi dana R&D terhadap PDB yang dihasilkan sektor bisnis swasta yang hanya menyumbang 0,017 persen. Hal tersebut berdampak kepada ekspor manufaktur high-technology di Indonesia yang masih rendah.

Berdasarkan data Bank Dunia 2021, ekspor manufaktur high-tech di Indonesia hanya 8,1 persen. Jauh tertinggal dari Malaysia, Thailand, dan Vietnam yang masing-masing 51,85 persen, 23,01 persen, dan 40,44 persen.

“Padahal untuk membangun tempat yang khusus membangun teknologi, diperlukan industri high-tech yang menjamur di Indonesia,” ujarnya.

Bukit Algoritma
Direktur Utama PT AMKA (Persero) Nikolas Agung (kiri) bersama Ketua Pelaksana Kiniku Bintang Raya KSO Budiman Sudjatmiko (kanan) menunjukkan naskah penandatanganan kontrak pekerjaan pengembangan Bukit Algoritma di kawasan ekonomi khusus (KEK) dan pengembangan teknologi dan industri 4.0 di Kabupaten Sukabumi di Jakarta, Rabu (7/4/2021). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.

Menurut Nailul, inovasi Indonesia tak cukup baik sehingga ICOR Indonesia berada di angka 6.7, nomor empat terbawah dibandingkan negara-negara ASEAN. Kebijakan pendorong R&D seperti tax allowance juga belum berdampak efektif

“Artinya modal yang masuk ke dalam negeri tidak bisa dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi atau bisa dibilang ongkos inovasi semakin mahal,” ungkap dia.

Baca Juga:

Startup Milik Putra Jokowi Dapat Kucuran Dana Rp29 Miliar dari Alpha JWC Ventures

Tantangan kedua adalah sumber daya manusia. UNESCO mencatat jumlah peneliti di Indonesia masih sangat rendah yakni 216 orang dari 1 juta penduduk. Begitu juga dengan komposisi proporsi penduduk yang mampu mengoperasikan komputer dengan mahir, jumlahnya hanya 3,5 persen dari penduduk muda dan dewasa.

Survei dari AFTECH juga mengatakan terdapat gap talenta antara penawaran dan permintaan tenaga kerja sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) khususnya untuk pekerjaan data dan analisa dan pemprogram di di industri fintech. Akibatnya, 36 persen perusahaan fintech memperkerjaan asing.

“Saya rasa ini menjadi catatan juga bahwa sumber daya manusia menjadi hal yang penting sebelum kita melangkah ke Silicon Valley,” ujar Nailul.

Silicon valley
Ilustrasi - Apple Silicon Valley (ANTARA News/ Reuters)

Sedangkan tantangan yang ketiga adalah ketimpangan digital sektor TIK hanya dinikmati oleh kalangan berada dan berpusat di Pulau Jawa dengan DKI Jakarta dan Yogyakarta sebagai pusat TIK. Data Badan Pusar Statistik mencatat sebanyak 50 persen rumah tangga di perkotaan telah menikmati layanan internet, sedangkan di perdesaan baru 26,56 persen.

“Inilah yang menjadi anomali juga ketika Silicon Valley ala Indonesia itu dikhususkan untuk petani di Indonesia. Bagaimana caranya petani di desa bisa menggunakan teknologi tetapi aksesnya sangat rendah dan bagaimana cara mereka memanfaatkan Silicon Valley,” papar dia.

Silicon Valley ala Indonesia atau Bukit Algoritma akan dibangun pada lahan seluas 888 hektare di Cikidang dan Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat dengan nilai total proyek mencapai Rp18 triliun. (*)

Baca Juga:

Jokowi: Saya Mau Jadi Investor

#Bukit Algoritma #Startup
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Wisnu Cipto

Jurnalis dan penulis profesional selama dua dekade di industri media, mulai dari koran, televisi, hingga konten digital. Lulusan FISIP UI terlatih merangkai kata-kata terkait isu sosial-budaya-politik-hukum secara akurat dan relevan bagi pembaca, dengan kiblat kode etik jurnalistik dan verifikasi-verifikasi-verifikasi ... Pemegang sertifikasi kompetensi dari Lembaga Pers Dr.Soetomo (LPDS), yang coba terus belajar berkarya dengan 'hati'.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Alasan Prahara Banyak Startup Bangkrut & Gagal Versi BRIN
BRIN menyoroti ketidaksesuaian antara produk yang dikembangkan startup dengan kebutuhan masyarakat sebagai faktor utama.
Wisnu Cipto - Rabu, 22 Oktober 2025
Alasan Prahara Banyak Startup Bangkrut & Gagal Versi BRIN
Dunia
Startup AI DeepSeek Dituding Bantu Militer China dan Gunakan Perusahaan Cangkang Asia Tenggara
DeepSeek, startup AI asal China, dituduh bantu operasi militer dan intelijen Beijing. AS juga menduga mereka gunakan perusahaan cangkang Asia Tenggara demi dapatkan chip canggih AS.
Hendaru Tri Hanggoro - Senin, 23 Juni 2025
Startup AI DeepSeek Dituding Bantu Militer China dan Gunakan Perusahaan Cangkang Asia Tenggara
Indonesia
Indonesia Jadi Negara Paling Dinamis Buat Perkembangan Startup
Saat ini Indonesia menjadi rumah bagi 2.500 startup.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 17 September 2024
Indonesia Jadi Negara Paling Dinamis Buat Perkembangan Startup
Indonesia
Kemenkop UKM Fasilitasi 180 Startup Perkuat Model Bisnis
Sejak 2021, Kemenkop UKM telah mengembangkan program peningkatan kapasitas startup melalui proses inkubasi,
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 27 Maret 2024
Kemenkop UKM Fasilitasi 180 Startup Perkuat Model Bisnis
Lifestyle
Indonesia Raih 5 Penghargaan ASEAN Digital Awards 2024
Indonesia meraih dua medali emas, satu perak, dan dua perunggu di ADA 2024.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 02 Februari 2024
Indonesia Raih 5 Penghargaan ASEAN Digital Awards 2024
Bagikan