Merahputih.com - Dua warga Solo menjadi korban hilang kapal tenggelam KM Virgo Transport 8 terbalik di Laut Jawa, yakni Aldo Nurahmansyah (19) dan Ahda Dhiyaurrohman (19) warga Kelurahan Kepatihan Wetan RT 06/RW 01, Kecamatan Jebres, Solo dan Kelurahan Gandekan, Jebres.
Paman Aldo Nurahmansyah (19), Suyono, mengatakan keponakannya berangkat ke Kalimantan merantau Jumat (11/9) Aldo berangkat bersama sejumlah temannya.
Saya mengetahui Aldo berangkat Jumat kemarin bersama temannya. Terus Minggu pagi apa malam itu ada musibah. Jadi berangkat dari rumah hari Jumat pagi,
kata Suyono.
Suyono menyebut Aldo berniat bekerja untuk membantu kondisi ekonomi keluarganya. Aldo disebut sudah lama berusaha mencari pekerjaan.
Baca juga:
“Doa (Aldo) berniat bekerja merantau membantu kondisi ekonomi keluarganya. Dapat kerjaan kebun sawit. Dan pertama merantau terjadi musibah ini,” katanya.
Suyono menambahkan sempat bertemu Aldo sebelum keberangkatannya. Dia juga memberikan pesan kepada Aldo agar meminta doa restu kepada ibunya sebelum pergi merantau.
Saya berharap Aldo dapat ditemukan dalam kondisi selamat. Namun, keluarga juga berusaha menerima apa pun yang menjadi kehendak Tuhan,
katanya.
Kerabat korban Ahda, Saryanto mengatakan Ahda naik kapal merantau ke Kalimantan bekerja di perusahaan sawit sebelum kejadian. Sebelum kejadian sempat berpamitan dengan dirinya.
Kami belum dapat kabar sampai sekarang, Ahda dimana. Pamitnya kerja mau merantau ke Kalimantan kerja di kelapa sawit,
ujar Saryanto.
Saryanto mengatakan Ahda sempat datang ke rumahnya pada Sabtu lalu untuk berpamitan.
Pamit ke rumah saya Sabtu siang mau berangkat kerja merantau. Dia (Ahda) itu baru pertama kali pergi untuk bekerja ke luar daerah,
katanya.
Dia mengatakan mereka kerja di sawit Kalimantan karena diajak temannya. Sebelumnya kerja di rumah makan wilayah Palur, Karanganyar.
Ia mengatakan bahwa kedua orang tua Ahda belum memberikan izin. Saryanto mengaku baru mengetahui hal tersebut setelah mendatangi rumah keluarga Ahda.
Saya ke sana tadi pagi, tanya kedua orang tuanya, katanya belum ketemu, abinya sama umiknya nggak mengizinkan merantau,
katanya.
Pasca kejadian tersebut, kata dia, keluarga telah berupaya mencari informasi mengenai keberadaan Ahda. Mereka disebut telah berkomunikasi dengan kepolisian, termasuk Polres dan pihak di Tanjung Perak di Surabaya.
Kami keluarga mencari update pencarian pada pihak terkait termasuk polisi hingga Tanjung Perak di sana,
katanya.
Dia mengaku, komunikasi terakhir dengan Ahda terjadi pada saat di atas kapal melakukan video call dengan kerabatnya. Setelah itu, mendapatkan kabar tersebut.
Komunikasi dia (Ahda) video call dengan kerabatnya di atas kapal. Tidak banyak percakapan yang terjadi. Ahda hanya berpamitan dan meminta didoakan,
paparnya.