Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Dunia

Unjuk Rasa Pelajar Prancis Tuntut Sekolah Layak, Pemerintah Berjanji Bertindak

Dwi Astarini - Jumat, 09 Oktober 2026

MERAHPUTIH.COM — PARA pelajar Prancis pantang menyerah dalam meloloskan tuntutan mereka untuk kondisi sekolah yang layak. Para remaja yang berdemo memblokade beberapa sekolah menengah atas, Kamis (8/10). Gerakan protes yang telah memasuki minggu ketiga ini akhirnya mendapat respons.

Pemerintah melontarkan janji mengatasi keluhan pendemo terkait dengan kekurangan guru dan bangunan sekolah yang terbengkalai, walau belum memberikan rincian yang spesifik.

Massa berdemonstrasi di Paris dan seluruh penjuru negeri, mulai dari Lille di utara, Rennes dan Nantes di barat, hingga Toulon dan Marseille di selatan. Unjuk rasa berjalan damai, meskipun bentrokan antara polisi dan demonstran sempat terjadi di beberapa lokasi di Paris dan Nantes. Polisi juga membubarkan paksa kerumunan massa serta menyemprotkan meriam air di Rennes.

Di alun-alun ikonis Place de la Bastille, Paris, tempat berkumpulnya para demonstran dalam jumlah besar, polisi menerjang para demonstran dan menggunakan meriam air saat hari mulai gelap.

Baca juga:

Unjuk Rasa Pelajar Prancis, Korban Berjatuhan dengan Cacat Permanen Jadi Bukti Tindakan Brutal Kepolisian



Tindakan brutal polisi dalam menangangi demonstrasi ini telah memantik kritik meluas. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengumumkan pada Rabu bahwa model granat kejut yang diduga memotong tangan remaja di Lens tidak akan lagi digunakan terhadap siswa SMA. Keputusan ini diambil karena adanya kemungkinan kuat bahwa senjata tersebut terlibat dalam putusnya tangan siswa tersebut.

“Kita perlu memahami secara pasti apa yang sebenarnya terjadi,” kata Nunez.

Meskipun demikian, ia tetap membela tindakan polisi dan menyebutnya sudah proporsional dalam ‘hampir semua kasus’. Ia mengatakan polisi terpaksa bertindak ketika protes berujung pada kerusuhan, vandalisme, serta kekerasan lainnya, dan melakukan tindakan tersebut dengan tetap menyadari bahwa mereka sebagian besar berhadapan dengan anak-anak.

“Anda tidak bisa menangani gerakan siswa SMA dengan cara yang sama seperti menangani gerakan orang dewasa,” kata menteri tersebut kepada stasiun pemancar RTL.



Menteri Berjanji Mengambil Langkah Darurat



Data dari Kementerian Pendidikan menunjukkan jumlah sekolah yang diblokade berangsur-angsur menurun. Pihaknya mencatat 224 sekolah sempat ditutup pada Kamis pagi, tapi angka tersebut berkurang menjadi 157 sekolah pada waktu makan siang. Itu berarti 96 persen sekolah tetap beroperasi terbuka.

Menteri Pendidikan Edouard Geffray, setelah bertemu dengan para siswa dan guru di Reims, menyatakan ia meluncurkan rencana darurat untuk memastikan guru yang absen segera mendapat pengganti, sedangkan beban jadwal pelajaran sekolah yang padat juga sedang ditinjau ulang.

Di Prancis, bukan hal yang aneh bagi para remaja untuk menjalani jam sekolah dari pukul 08.00 pagi hingga 18.00, ditambah beban tugas rumah (PR) yang menumpuk.

Geffray menambahkan ia sedang mengupayakan potensi perbaikan pada Parcoursup, portal daring nasional untuk pendaftaran kuliah. Portal itu menuai banyak kritik karena dianggap membingungkan dan memicu stres bagi para pendaftar.

Perdana Menteri Sebastien Lecornu berjanji pada Rabu malam bahwa pemerintah akan menyajikan respons yang konkret, cepat, dan terdanai penuh atas aksi protes ini pada akhir Oktober, tanpa membeberkan rincian lebih lanjut.

Para pemimpin aksi siswa menilai tanggapan tersebut tidak cukup dan menyerukan unjuk rasa susulan pada Selasa (13/10). Seruan untuk menggelar aksi protes massal pada 17 Oktober juga marak beredar di media sosial. “Tuntutan kami harus didengar. Kemarin, Lecornu hanya memberikan janji manis tanpa bukti. Mobilisasi akan terus berlanjut, kami tidak akan mundur sedikit pun,” tegas Ryad Rani, salah seorang pemimpin serikat pelajar.

Salah satu keluhan utama yang banyak disuarakan melalui spanduk dan poster yakni respons kepolisian yang dinilai terlalu represif. Para demonstran mengacungkan poster berisi kritik seperti ‘terlalu muda untuk didengar, cukup umur untuk ditembak gas air mata’.(dwi)

Baca juga:

Demo Pelajar di Prancis Rusuh, Pemerintah Tutup Ratusan SMA

Baca Artikel Asli