Umat Hindu Rayakan Hari Raya Saraswati dan Nyepi Bersamaan, ini Maknanya

Sabtu, 17 Maret 2018 - Dwi Astarini

PERAYAAN Tahun Baru Saka yang disebut dengan Nyepi dijalani umat Hindu se-Indonesia pada Sabtu (17/3). Di hari itu, selain merayakan tahun yang baru, umat Hindu juga merayakan Hari Raya Saraswati.

Hari Raya Saraswati merupakan peringatan hari turunnya ilmu pengetahuan. Saat hari itu, umat Hindu memuja Dewi Saraswati sebagai simbol ilmu pengetahuan.

Ida Pandita Empu Dharmika Sandhi Kertha Satwika dari Griya Kayumas, Denpasar, menjelaskan Hari Raya Saraswati dirayakan setiap 210 hari berdasarkan perhitungan panca wara dan sapta wara. Semetara itu, Hari Raya Nyepi dirayakan dengan siklus tahunan berdasarkan peredaran Matahari.

"Oleh karena itu, pada suatu saat, dalam hitungan jangka waktu tertentu, kedua hari raya ini pasti akan bertemu," jelasnya saat dihubungi Merahputih.com via telepon, Jumat (16/3).

Jika biasanya umat Hindu di Bali biasanya merayakan Saraswati dengan menggelar persembahyangan bersama di sekolah atau pura di siang atau sore hari, karena kali ini jatuh bersamaan dengan Nyepi, masyarakat Bali pun menyesuaikan dengan pelaksanaan Nyepi.

"Perayaan Saraswati di Nyepi ini tetap dilaksanakan. Sesuai dengan arahan Parisadha, persembahyangan dilakukan di rumah masing-masing sebelum pukul 06.00 WITA. Sehingga mulai pukul 06.00 WITA sudah bisa melakukan tapa brata penyepian," jelas Ida Pandita Empu Dharmika.

Meskipun demikian, ia menyebut tak ada perbedaan atau sesajen khusus untuk perayaan Saraswati yang jatuh berbarengan dengan Nyepi.

"Sesajen yang dihaturkan sama saja seperti perayaan Saraswati biasanya. Hanya saja, waktunya lebih pagi," imbuhnya.

Tak hanya berbeda dalam hal perayaan, Saraswati yang jatuh bertepatan dengan Hari Raya Nyepi tentu memberi makna tersendiri.

"Saraswati yang jatuh saat Nyepi, selain menjalankan tapa brata penyepian, bisa dimaknai juga untuk memohon kepada Dewi Saraswati agar diberi pencerahan. Jadi beribadah lebih khusyuk," ujar Ida Pandita Empu Dharmika.

Sesuai dengan anjuran dari PHDI, umat Hindu di Bali melaksanakan persembahyangan Saraswati di pura setempat pagi-pagi, sebelum pukul 06.00 WITA. Hal tersebut juga dilakukan warga Banjar Kehen, Denpasar. Warga melaksanakan persembahyangan di pura banjar sebelum pukul 05.00 WITA.

"Persembahyangan Saraswati di Pura Banjar Kehen sudah digelar sejak pukul 05.00 WITA. Warga datang sejak dini hari untuk melaksanakan persembahyangan Saraswati seperti biasa," ujar Made Ariyosi, warga Banjar Kehen, Denpasar, saat dihubungi Merahputih.com via pesan singkat, Sabtu (17/3).

Meskipun demikian, Ariyosi juga menyebutkan bahwa persembahyangan di rumah dilakukan lebih siang.

"Karena tidak perlu keluar dari halaman rumah, persembahyangan di rumah berjalan seperti biasa saja. Mulai pukul 07.00 WITA," imbuhnya.(dwi)

Bagikan

Baca Original Artikel
Bagikan