Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup

Tantangan di Financial Outlook 2024

Dwi Astarini - Jumat, 19 Januari 2024

MERAHPUTIH.COM - DI 2023, bank sentral global berjuang melawan inflasi. Setelah penaikan suku bunga oleh bank sentral di seluruh dunia, inflasi global turun dari sekitar 10 persen pada musim panas 2022 ke level saat ini yang kurang dari 5 persen. Sebagai konsekuensi dari penaikan suku bunga, persyaratan pengembalian aset yang lebih tinggi juga menjadi hambatan bagi perekonomian global.

Saat memasuki tahun pemilu di 2024, tak pelak ketegangan geopolitik di AS dan seluruh dunia akan meningkat. Selain itu, ada kemungkinan the Fed akan mengarahkan perekonomian AS pada pendaratan lunak (soft landing) dengan suku bunga masih belum ditentukan. Selain itu, ancaman resesi global pun masih membayangi. Broker internasional yang menyediakan layanan trading daring, Octa, memberikan skenario tantangan yang akan muncul dalam financial outlook 2024.

BACA JUGA:

Skenario Positif dalam Financial Outlook 2024

Di 2024, pasar tenaga kerja sangat penting untuk menentukan apakah kondisi ekonomi bergerak dari pendaratan lunak ke pendaratan keras. Dalam kasus ini, bahkan dengan kestabilan inflasi, ekonomi gagal mempertahankan penaikan suku bunga yang berlebihan. Hal itu akan terus berdampak negatif pada imbal hasil semua obligasi yang diterbitkan dan berpengaruh ke semua bagian pasar finansial. Korporasi cenderung akan mengurangi biaya tenaga kerja dan memicu penurunan lebih lanjut dalam pengeluaran konsumen.

Pada pertengahan 2024, guliran suku bunga yang tinggi memicu peningkatan signifikan pada tingkat pengangguran, kredit konsumen, dan tunggakan hipotek. Mulai paruh kedua 2024, ini akan ada peralihan dari konsumen kembali ke sektor korporasi dan kemudian ke indikator ekonomi makro. Pada akhir tahun, pendapatan korporat cenderung menurun dengan signifikan dan pengangguran meningkat.

trading
Taktik trader harus didasarkan pada hal ini, yakni bertaruh pada pertumbuhan stabil emas, minyak, gas, dan Bitcoin.(foto: pexels-rdne-stock-project)

Pada September 2024, situasi itu mungkin akan menjadi sangat jelas sehingga bank sentral akan kembali menerapkan pelonggaran kuantitatif untuk mendukung korporasi dan pasar tenaga kerja. Sementara itu, dalam situasi yang sama, meski amat kecil, Bank of Japan mungkin meninggalkan kebijakan suku bunga negatifnya. Hal itu memberi gambaran tentang dinamika USD-JPY pada 2024. Bersama dengan destabilisasi ekonomi global, ketegangan geopolitik tetap ada.

Analis pasar finansial Octa kar Yong Ang mengatakan dengan tingginya suku bunga, investor akan terus menggunakan aset defensif sampai September 2024. Taktik trader harus didasarkan pada hal ini, yakni bertaruh pada pertumbuhan stabil emas, minyak, gas, dan Bitcoin. Setelah peristiwa September, menurut Yong Ang, ketidakpastian akan meningkat secara signifikan karena efek pelonggaran kuantitatif yang masih hipotetis itu tidak akan langsung terlihat. Selain itu, akhir pemilu AS menjadikan gambaran di masa depan makin tidak dapat diprediksi.

Skenario-skenario itu memiliki pola yang sama mulai awal 2024 hingga pertengahan Maret. Setelahnya, dinamika pasar dapat dikategorikan sebagai risk-off atau risk-on. “Pengetahuan akan tren yang mendasari dan memahami pola di kemudian hari bisa menghadirkan peluang trading yang baik dalam skenario apa pun yang akan terjadi pada 2024,” tutup Yong Ang.(dwi)

Baca Artikel Asli