Syuting Drakor ‘The First Nigth with the Duke’, KBS Dituntut karena Merusak Situs Warisan Dunia UNESCO
Kamis, 02 Januari 2025 -
MERAHPUTIH.COM - DRAKOR yang dibintangi Taecyeon 2PM dan member Girl’s Generation Seohyun, The First Night with the Duke, baru saja memulai syuting di Akademi Konfusianisme Byeongsanseowon, yang merupakan situs warisan dunia UNESCO. Namun, kontroversi langsung menyelimuti drama ini. Bukan karena alur ceritanya, melainkan proses syuting yang disebut merusak situs warisan dunia UNESCO tersebut.
Drama produksi KBS itu telah berada di bawah pengawasan setelah adanya tuduhan perusakan. Sebuah laporan, seperti dikabarkan Allkpop, menyebut para kru memaku pilar-pilar kayu di situs bersejarah tersebut selama syuting. Atas laporan itu, Pemerintah Kota Andong dan Administrasi Warisan Nasional telah meluncurkan penyelidikan.
"Kami telah menerima keluhan melalui sistem laporan keselamatan nasional. Izin syuting didelegasikan kepada pemerintah daerah. Kota Andong mengeluarkan izin untuk syuting ini. Saat ini, tim produksi telah melanggar ketentuan izin,” kata seorang perwakilan dari Administrasi Warisan Nasional kepada HeraldPOP, Rabu (2/1).
Pejabat tersebut menjelaskan izin tersebut secara eksplisit melarang perusakan warisan budaya. Ia menyebut memaku palu pada pilar kayu situs bersejarah itu jelas merupakan pelanggaran. “Kota Andong sedang meninjau langkah-langkah untuk mengatasinya. Kami mungkin perlu mendapatkan pernyataan rinci tentang insiden tersebut. Mengingat kerusakan yang terjadi, tindakan hukum, termasuk mengajukan tuntutan, merupakan sebuah kemungkinan,” katanya.
Baca juga:
Kenalan dengan ‘3 Jang’, Saus Khas Korea yang Diakui Warisan UNESCO
Kontroversi ini semakin menarik setelah seorang arsitek, yang diidentifikasi sebagai ‘A’, membagikan pengamatannya di media sosial. Ia mengklaim telah menyaksikan para kru merusak bangunan bersejarah tersebut selama pembuatan film pada 30 Desember 2024. "Ketika mengunjungi Akademi Konghucu Byeongsanseowon sore itu, saya melihat staf memaku paku di pilar-pilar kayu. Meskipun saya memprotes, mereka bereaksi dengan marah,” katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan telah menghubungi Departemen Warisan Budaya Kota Andong dan media untuk melaporkan kejadian tersebut. Namun, ia justru terkejut saat mengetahui bahwa insiden semacam itu tidak jarang terjadi. "Dalam beberapa kasus, situs warisan budaya modern bahkan memiliki pilar atau dinding yang dibongkar untuk tujuan pembuatan film," ungkap A.
Menurutnya, beberapa orang mungkin berpikir bahwa menancapkan paku ke kayu bukanlah masalah besar. “Namun, bahkan di rumah-rumah tradisional Korea, menancapkan paku tunggal membutuhkan pertimbangan yang cermat. Ketika menyangkut warisan budaya, kehati-hatian yang lebih besar lagi diperlukan,” tegasnya.
Seiring dengan berlanjutnya investigasi, insiden ini telah memicu kemarahan publik dan seruan baru untuk peraturan yang lebih ketat untuk melindungi situs warisan budaya selama kegiatan komersial seperti pembuatan film.(dwi)
Baca juga:
Israel Serang Situs Warisan Dunia, UNESCO Sebut sebagai Kejahatan Perang