Merahputih.com - Gencatan senjata Iran dan Amerika Serikat menjadi momentum penting bagi perdamaian dunia dan mendapatkan apresiasi penuh dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, menegaskan bahwa penghentian agresi ini harus berlanjut menjadi perdamaian permanen guna mencegah bencana kemanusiaan yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Baca juga:
Berunding Dengan Iran, Trump Minta Isarel Kurangi Serangan ke Iran
Peran Pakistan dan Negara Teluk dalam Meredam Konflik
Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya, memuji langkah diplomatik Pakistan yang bertindak sebagai mediator efektif antara pihak yang bertikai.
Selain Pakistan, Gus Yahya menyoroti sikap menahan diri dari negara-negara Teluk yang menolak menjadi basis serangan militer.
"Apresiasi kepada pemerintah Pakistan yang berupaya menjadi penengah komunikasi antara pihak berkonflik. Kami juga mengapresiasi negara-negara Teluk yang tidak membalas serangan, bahkan menolak wilayah masing-masing untuk dijadikan basis menyerang Iran," ujar Gus Yahya, Jumat (10/4).
Posisi Indonesia sebagai Sahabat Dunia
PBNU menilai bahwa perang memberikan dampak buruk yang tidak terelakkan bagi stabilitas ekonomi dan sosial global.
Baca juga:
Bagian Kesepakatan Damai Dengan Iran, AS Bakal Jadi Tuan Rumah Pertemuan Israel dan Lebanon
Sebagai organisasi Islam terbesar, PBNU mendorong Indonesia untuk terus memposisikan diri sebagai sahabat bagi semua negara yang terlibat demi menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
"Berharap ini menjadi permanen. Gencatan senjata ini diikuti menghentikan kekerasan sama sekali. Perang berdampak tidak saja pada negara yang terlibat, tetapi bagi dunia. Semua negara terdampak dan semuanya berjibaku menghadapi dampak ini," tegas Gus Yahya.