FESTIVAL Film Cannes 2021 yang berlangsung dari 6 sampai 17 Juli 2021 seolah senyap ditelan pandemi COVID-19. Festival film ini memang memiliki gengsi yang amat tinggi di kalangan sineas.
Kejutan di awal festival ini adalah kehadiran Spike Lee, sutradara berkulit hitam, yang sangat vokal menyuarakan ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di perfilman barat (baca: Amerika).
Baca Juga:
Pesilat Made In Negeri Aing Jadi Langganan Film Action Hollywood
Sutradara film BlacKkKlansman (2018) menciptakan sejarah baru dalam Festival Film Cannes 2021. Dia menjadi juri kepala dari sembilan aktris dan aktor. Lee memberikan penilaian bersama Maggie Gyllenhaal, Tahar Rahim, dan Song Kang-ho.
Kehadiran Lee pada festival ini menjadi isyarat adanya perubahan di dalamnya. Bahkan wajah Lee menjadi ikon resmi pada poster festival film yang diikuti oleh semua sineas dunia.
“Cannes adalah festival film terbesar di dunia, sehingga kadang tidak menghormati festival film lainnya,” ungkap juri kepala untuk Palm d'Or di Festival Film Cannes 2021.
Sutradara bernama asli Shelton Jackson Lee, juga merupakan aktor, penulis, dan produser dari Amerika Serikat. Dia memulai perjalanan kariernya di Cannes di tahun 1986.
Lee berhasil masuk Cannes dengan film garapannya berjudul She’s Gotta Have It. Namun menurutnya di Variety, Lee tidak terlalu mengenang film itu sebagai debutnya. Melainkan di tahun itu dia lebih merekam kenangannya pada kekalahan tim favoritnya, New York Knicks di Final NBA sekitar 1990-an.
Baca Juga:
Pasca 2 Dekade, 'Spirited Away' Masih Jadi Film Animasi Terbaik Sepanjang Masa
Selanjutnya, pada 1989, satu film produksi Lee, berjudul Do The Right Thing, tidak memenangi hati para juri Cannes. Akan tetapi, orang yang pertama protes atas keputusan juri bukanlah Spike Lee, melainkan mendiang jurnalis dan kritikus film dari Chicago Sun-Times, Roger Ebert.
“Aku ingin kalian tahu bahwa aku sudah punya tempat istimewa di hatiku untuk Roger (Roger Ebert) dan kau tahu itu. Itu bukan keputusan mudah dari apa yang dia (Roger Ebert) rasakan dari film itu. Akibatnya, banyak orang merasa bahwa pers Amerika akan memulai kerusuhan ras di seluruh negeri,” ungkap Lee secara detail kepada Variety pada awal bulan Juli (06/07).
Perkembangan teknologi digital yang semakin meluas sampai ke dunia hiburan, dianggap oleh Lee sebagai berkah. Baginya tidak ada yang perlu dijadikan konflik. Dilansir dari ANTARA, Lee menegaskan bahwa sinema (bioskop) dan platform digital dapat hidup berdampingan, tanpa saling menjatuhkan satu sama lain.
“Suatu waktu ada pemikiran bahwa televisi akan membunuh bioskop. Tidak ada yang baru, bukanlah sesuatu yang baru, ini semua siklus,” ungkap Lee. (abed)
Baca Juga: