Merahputih.com - Banyak investor khawatir berlakunya aturan saham Rp1 atau kebijakan harga saham terendah menjadi biang kerok utama di balik penurunan IHSG 2026 baru-baru ini.
Namun, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung menegaskan bahwa anjloknya saham 'gocap' sama sekali tidak berdampak signifikan terhadap koreksi pasar.
Penjelasan resmi ini tentu langsung menjawab kebingungan dan meredakan kepanikan para trader yang sedang memantau portofolionya.
Baca juga:
Rupiah Hari Ini Loyo ke Rp17.981, Ancaman The Fed & Harga Minyak Jadi Biang Keroknya
Kebijakan harga saham terendah BEI ini memang lagi hangat-hangatnya diperbincangkan karena merombak batasan harga yang tadinya mentok di Rp50.
Walaupun banyak obrolan di forum investasi yang mengira dampak saham Rp1 bakal langsung menyeret Bursa Efek Indonesia ke zona merah, porsi saham-saham tersebut nyatanya sangat kecil.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, bahkan turun tangan langsung untuk memberikan pencerahan berbasis data agar pasar tidak salah arah dalam merespons penurunan IHSG 2026 yang terjadi di akhir September.
Data Buktikan Saham 'Gocap' Bukan Tersangka Utama

Untuk menepis rumor liar di kalangan pelaku pasar, Jeffrey Hendrik membeberkan hitung-hitungan bobot saham secara transparan. Berdasarkan data per 25 September 2026, hanya ada 26 saham yang bertengger di harga Rp50 dengan total bobot terhadap IHSG cuma sebesar 1,91 persen.
Angka yang kecil ini menjadi bukti kuat bahwa pergerakan saham lapis bawah tidak punya tenaga cukup untuk meruntuhkan indeks secara masif.
Untuk melengkapi informasi saat doorstop kemarin Senin (28/9/2026), bahwa bobot saham saham Rp50 tidak berkontribusi signifikan pada pergerakan IHSG kemarin,
terang Jeffrey.
Ia juga menambahkan detail pergerakannya. "Saham tersebut mengalami penurunan antara 8-14 persen pada Senin, 28 September 2026, yang berkontribusi terhadap penurunan sekitar minus 0,27 persen atau minus 16,707 poin," imbuhnya.
Puluhan Saham Langsung Turun Kelas di Hari Pertama
Hari pertama implementasi aturan baru ini pada Senin (28/9) memang langsung memakan "korban" bagi saham-saham yang selama ini tidur nyenyak di level gocap.
Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, mengungkapkan fenomena yang terjadi di lapangan. Dari ratusan saham yang harganya berada di kisaran bawah, puluhan di antaranya langsung merosot menembus batas Rp50.
Terdapat 34 dari 164 saham dengan harga Rp50-100 pada 25 September 2026, yang mengalami penurunan harga di bawah Rp50,
ungkap Iding.
Misi Utama: Bangunkan Saham Tidur dan Bikin Harga Lebih Wajar
Lalu, kenapa BEI nekat merombak aturan yang sudah lama berlaku? Tujuan utamanya bukan buat nakut-nakutin investor, melainkan untuk menyuntikkan likuiditas dan menciptakan mekanisme pembentukan harga (price discovery) yang jauh lebih sehat.
Selama ini, banyak saham yang terjebak di harga Rp50 tanpa ada transaksi sama sekali, layaknya barang yang tak laku dijual tapi harganya nggak boleh diturunin.
"Kami harapkan ini akan meningkatkan likuiditas dan menghadirkan price discovery yang lebih baik atas saham-saham yang selama ini memang sudah lama ada di harga Rp50 dan tidak ada likuiditas," jelas Jeffrey.
Baca juga:
IHSG Hari Ini Anjlok Efek Aturan Baru Harga Saham Rp1, Saham-Saham 'Gocap' Berpotensi Runtuh
Kondisi Terkini Penutupan IHSG
Terlepas dari dinamika aturan baru, pasar saham tetap bergerak merespons sentimen makro dan mikro lainnya. Pada penutupan perdagangan Selasa sore, IHSG tercatat agak lemas dengan koreksi 26,16 poin atau 0,43 persen, parkir di posisi 6.121,70.
Senasib dengan indeks utama, kelompok 45 saham unggulan alias LQ45 juga ikut turun tipis 3,65 poin (0,60 persen) ke level 608,16.
Aktivitas jual beli tetap ramai. Frekuensi perdagangan mencapai 1,78 juta kali transaksi, melibatkan 35,86 miliar lembar saham dengan total nilai turnover tembus Rp12,96 triliun. Secara keseluruhan, ada 315 saham yang berhasil naik, 391 saham terkoreksi, dan 257 lainnya mager alias tidak bergerak nilainya.