Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Rawan Tsunami, LIPI Sarankan Pemerintah DIY Analisis Risiko

Noer Ardiansjah - Rabu, 30 Agustus 2017

MerahPutih.com - Kepala Pusat Penelitian Geo Tsunami Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto menegaskan bahwa lokasi bandara baru Yogyakarta rawan bencana.

Eko mengatakan, sebelum menetapkan lokasi New Yogyakarta International Airport Yogyakarta (NYIA) di Kulon Progo, baiknya pemerintah menganalisis risiko bencana.

Eko menjelaskan, analisis risiko bencana diperlukan untuk mengurangi dampak yang timbul serta menekan jumlah korban jiwa, jika terjadi bencana tsunami ataupun gempa.

"Analisis risko bencana yakni menghitung risiko apa saja yang akan terjadi jika ada bencana. Kalau ada tsunami yang sangat dasyat, berapa bangunan yang rusak, ke mana warga harus mengevakuasi diri, berapa lama waktu evakuasi warga disekitar pantai, berapa korban yang akan terkena dampak, dan lainnya," kata Eko di Yogyakarta, Selasa (29/8).

Saat terjadi gempa, kata Eko, pemerintah perlu memikirkan berapa bangunan yang akan rusak atau roboh karena gempa, ke mana dan bagaimana warga harus berlindung saat gempa terjadi. Usai gempa, ke mana warga harus mencari bantuan dan berapa kerugian yang timbul.

Berdasarkan penelitian LIPI, tanah di Pulau Jawa bersifat labil dan kurang kokoh dibandingkan pulau lain. Hal ini membuat guncangan gempa lebih terasa dan bisa merusak bangunan lebih cepat dibandingkan daerah lain.

"Waktu gempa Bantul 2006, gempanya 5,9 skala richter dan terjadi kurang dari 50 detik. Namun, efeknya besar dan menelan korban jiwa sampai enam ribu orang. Sementara, gempa di Bengkulu dengan 8 skala richter hanya menelan korban jiwa 3 orang. Maka, ini (gempa di OPulau Jawa) mencemaskan," tandasnya.

Pemerintah diminta menyiapkan serangkaian mitigasi bencana di antaranya membuat bangunan yang tahan gempa hingga kekuatan tertentu, membuat ruangan aman gempa yang bisa tahan terhadap hantaman bangunan, dan penentuan tempat dan jalur evakuasi.

Sementara untuk tsunami, mitigasi bencana yang perlu dilakukan di antaranya menghitung ketinggian gelombang tsunami, membuat hutan dikawasan pantai, membuat kolam-kolam untuk menahan laju tsunami, dan memberi pelatihan evakuasi tsunami pada warga disekitar pantai. (*)

Berita ini merupakan laporan dari Teresa Ika, kontributor merahputih.com untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Baca juga berita lainnya dalam artikel: ATM BCA Masih Rusak, Warga Tak Bisa Belanja Ke Pasar Tradisional

Baca Artikel Asli

BERITA TERKAIT