MERAHPUTIH.COM — RAJA Haakon VIII menjadi raja baru Norwegia setelah ayahnya, Raja Harald V, meninggal dunia pada Jumat (28/8). Keluarga Kerajaan Norwegia telah merilis foto resmi Raja Haakon VIII sebagai raja baru negara tersebut.
Haakon menjadi raja keempat yang memimpin monarki modern Norwegia sejak sistem kerajaan dipulihkan pada 1905, setelah negara tersebut memperoleh kemerdekaan dari Swedia. Haakon selama ini bekerja erat dengan ayahnya dalam menjalankan tugas-tugas kerajaan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Haakon telah mengambil alih lebih banyak tanggung jawab ketika Raja Harald sakit atau tidak dapat menjalankan tugas.
Baca juga:
Kondisi Raja Harald Memburuk, Keluarga Kerajaan Norwegia Serentak Berkumpul
Menjadi Putra Mahkota Sejak Usia 17 Tahun
Raja Haakon lahir pada 1973 dan merupakan anak bungsu mendiang Raja Harald V dan Ratu Sonja. Dalam pengakuannya sendiri, Haakon sempat kesulitan menerima statusnya sebagai anggota keluarga kerajaan ketika masih muda.
"Ya, saya seorang bangsawan, tetapi saya tidak ingin membicarakannya. Di sekolah, hal itu membuat saya cemas," ujar Haakon dalam autobiografinya yang diterbitkan pada 2023. Ia mengenang masa-masanya bersekolah di sekolah dasar negeri pada 1980-an.
Haakon menjadi putra mahkota pada 1991, ketika usianya baru 17 tahun, setelah kakeknya, Raja Olav V, meninggal dunia. Tidak seperti kebanyakan anggota keluarga kerajaan, Haakon menempuh pendidikan di sekolah negeri setempat sebelum menjalani karier selama empat tahun di Angkatan Laut Norwegia. Ia lulus dari Akademi Angkatan Laut Norwegia pada 1995.
Ia memilih tidak mengikuti jejak ayah dan kakeknya untuk berkuliah di Universitas Oxford. Sebaliknya, ia pergi ke California dan mendaftar di University of Berkeley untuk mempelajari ilmu politik. Tidak lama setelah kembali ke Norwegia, Haakon bertemu dengan calon istrinya, Mette-Marit, dalam sebuah festival musik di kota kelahirannya, Kristiansand, pada 1999.
Media menjuluki Matte-Marit sebagai ‘Cinderella dari Kristiansand’, merujuk pada latar belakangnya yang sederhana. “Apa yang kami berdua temukan bersama begitu kuat sehingga saya tidak bisa melepaskannya," kata Putra Mahkota Haakon saat itu mengenai Mette-Marit menjelang pernikahan mereka pada 2001.
Namun, hubungan mereka tidak terlepas dari kontroversi. Perdebatan sengit terjadi di Norwegia sejak Haakon pertama kali mengumumkan hubungan mereka. Sejumlah komentator bahkan memperingatkan bahwa hubungan tersebut dapat mengakhiri monarki Norwegia. Mereka membandingkannya dengan hubungan kontroversial antara perempuan Amerika yang telah bercerai, Wallis Simpson, dan Raja Edward VIII dari Inggris, yang akhirnya turun takhta pada 1936.
Mette-Marit bukanlah perempuan dari kalangan rakyat biasa pertama yang menikah dengan keluarga Kerajaan Norwegia. Mendiang Raja Harald sendiri telah mematahkan tradisi ketika menikahi Ratu Sonja sekitar tiga dekade sebelumnya. Namun, Mette-Marit saat itu merupakan seorang ibu tunggal dengan seorang anak berusia empat tahun. Ayah anak tersebut pernah menjalani hukuman setelah dinyatakan bersalah atas kepemilikan kokain.
Keputusan pasangan kerajaan tersebut untuk tinggal bersama di sebuah apartemen di Oslo juga menuai kritik dari Gereja Lutheran Norwegia yang konservatif. Namun, jajak pendapat saat itu menunjukkan sebagian besar masyarakat Norwegia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Hal yang menjadi pertanyaan bagi banyak warga Norwegia justru apakah gaya hidup Mette-Marit di masa lalu sesuai dengan kehidupan sebagai istri calon raja.
Dalam wawancara emosional tiga hari sebelum pernikahan mereka, Mette-Marit secara terbuka meminta maaf atas ‘masa lalu liarnya’ dan mengecam penggunaan narkoba. Pernyataan tersebut muncul setelah laporan bahwa narkoba digunakan dalam pesta-pesta yang ia hadiri di Oslo pada 1990-an. Meski begitu, Mette-Marit tidak mengatakan apakah ia pernah menggunakan narkoba tersebut.
Naik Takhta di Tengah Skandal Keluarga Kerajaan
Haakon menjadi raja pada masa yang penuh gejolak bagi keluarga kerajaan Norwegia. Ia naik takhta di tengah situasi penuh gejolak yang melanda keluarga Kerajaan Norwegia. Meski masih mendapat dukungan luas dari masyarakat, Monarki Norwegia, dalam beberapa tahun terakhir, menghadapi sejumlah skandal.
Istri Raja Haakon, Mette-Marit, telah meminta maaf atas hubungannya selama beberapa tahun dengan Jeffrey Epstein, seorang pelaku kejahatan seksual yang telah divonis bersalah.
Putra Mette-Marit dari hubungan sebelumnya, Marius Borg Høiby, juga telah dinyatakan bersalah dalam persidangan kasus pemerkosaan yang mendapat perhatian luas. Ia mengajukan banding atas vonis tersebut.
Baca juga:
Raja Harald V dari Norwegia Meninggal Dunia pada Usia 89 Tahun
Telah Bertemu para Menteri
Lima jam setelah ayahnya meninggal dunia, Raja Haakon tampil mengenakan seragam militer hitam, menyambut para menteri pemerintah di istana kerajaan dalam pertemuan luar biasa Dewan Negara. Haakon berjabat tangan dengan setiap menteri yang hadir di ruangan tersebut. Mereka semua mengenakan pakaian hitam dengan wajah serius dan suasana yang penuh duka.
Putrinya, Putri Mahkota Ingrid Alexandra, 22, yang mengenakan setelan hitam, turut mendampingi ayahnya.
Ingrid Alexandra merupakan orang berikutnya dalam garis suksesi takhta Norwegia untuk menjadi ratu. Posisi tersebut dimungkinkan setelah aturan suksesi kerajaan diubah pada 1990.(dwi)
Baca juga: