Peron dan Post-Punk Kaum Kerja: Membuka Realitas Lewat EP Perdana 'SINGKAP'

Minggu, 11 Januari 2026 - Ananda Dimas Prasetya

MerahPutih.com - Apa yang biasanya dilakukan individu usia 25-an ketika sadar bahwa mereka tidak terlalu kaya, tidak terlalu penting, dan tidak terlalu punya koneksi? Sebagian memilih ikut kelas yoga, sebagian lain terjebak overthinking setiap malam. Peron justru mengambil opsi yang paling tidak efisien secara ekonomi: membentuk band.

Peron adalah empat orang yang kebetulan bertahan hidup di Semarang dan sepakat bahwa realitas kerja terlalu membosankan untuk diterima tanpa distorsi suara.

Band ini digawangi Faisal (vokal), mantan reporter berita dengan kecenderungan melankolis kronis; Rizky (bass), arsitek kejar tayang yang hidupnya diukur lewat deadline dan revisi; Rio (gitar), pekerja kultural yang lapar secara fisik dan spiritual; serta Sultan (drum), pegawai kantoran medioker dengan kontribusi paling konsisten: hadir dan memukul membran.

Baca juga:

Soy Kongo Rilis EP 'Sekap', Kritik Pembangunan dan Lanskap Kesadaran Lewat Gelapnya Darkwave

Mereka mengklaim memainkan post-punk, bukan karena sepenuhnya memahami definisinya, melainkan karena istilah tersebut cukup lentur untuk menampung gitar kasar, bass repetitif, lirik sinis, serta rasa muak terhadap kehidupan modern.

Referensi musikal Peron datang dari Viagra Boys, Protomartyr, IDLES, hingga Joy Division, dengan metode kreatif yang mereka sebut sebagai pencurian terencana.

Peron tidak tertarik mengklasifikasikan musiknya lebih jauh. Bagi mereka, post-punk adalah punk yang sudah sadar diri: masih marah, tapi punya jam kerja; masih ingin memberontak, tapi besok tetap harus bangun pagi.

Baca juga:

Unit Sufi Rock Magelang Musuffer Gugat Ego dan Dogma lewat Single 'Last Trip'

Musik Peron diciptakan untuk menggerakkan tubuh-tubuh yang kelelahan, menemani orang berdansa di sela jam lembur, dan memberi ruang kecil untuk memaki sistem—tanpa benar-benar keluar dari ritme hidup itu sendiri.

Band ini percaya bahwa bekerja adalah kewajiban, namun berdansa merupakan bentuk perlawanan paling realistis yang masih bisa dilakukan tanpa harus mengajukan cuti.

Pada 2026, Peron merilis EP perdana berjudul SINGKAP. Rilisan enam lagu ini tidak dimaksudkan sebagai pernyataan besar, melainkan pembukaan tanpa filter. SINGKAP merangkum satu single dan dua maxi single yang telah dirilis sebelumnya, lalu disusun ulang bersama materi baru dalam satu kesatuan yang merepresentasikan identitas awal Peron—jujur, sinis, dan sadar diri. (Far)

Bagikan

Baca Original Artikel
Bagikan