MRT Jakarta Bakal Tambah Jadwal dan Layanan Demi Kejar 50 Juta Penumpang Tahun Ini
Selasa, 20 Januari 2026 -
Merahputih.com - PT MRT Jakarta (Perseroda) tancap gas mengejar target ambisius pada tahun 2026. Perusahaan transportasi kebanggaan ibu kota ini mematok angka 50 juta pelanggan dalam setahun, seiring dengan percepatan pembangunan infrastruktur Fase 2 yang kini tengah berlangsung.
Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda), Tuhiyat, menegaskan bahwa peningkatan ini bukan sekadar angka, melainkan komitmen dalam meningkatkan pelayanan publik.
"Di tahun 2026, kami bertekad untuk meningkatkan dari sebelumnya 127 ribu menjadi 137 ribu pelanggan per hari atau mendekati angka 50 juta pelanggan per setahun," ujar Tuhiyat saat meresmikan groundbreaking pintu masuk (entrance) Stasiun Harmoni Lin Utara-Selatan di Jakarta, Selasa (20/1).
Baca juga:
Simak Nih! Ini Rekayasa Lalu Lintas Fase 2A MRT Jakarta Segmen Glodok-Kota, Dimulai Besok
Percepatan Proyek Fase 2 dan Wajah Baru Harmoni
Tuhiyat menjelaskan bahwa lonjakan target ini merujuk pada performa positif tahun 2025 yang mencatatkan total 46,5 juta pelanggan. Untuk mendukung volume penumpang tersebut, pembangunan MRT Fase 2 menjadi kunci utama menghubungkan jantung kota hingga ke sisi utara Jakarta.
Hingga saat ini, progres pembangunan paket kontrak CP202 telah mencapai 61 persen, sementara pembangunan fisik Stasiun Harmoni sendiri berada di angka 56 persen. Pihak manajemen menargetkan rute Bundaran HI–Monas rampung pada 2027, disusul rute Harmoni–Kota pada 2029.
"MRT Fase 2 adalah tahapan penting untuk melanjutkan pembangunan sistem transportasi massal modern yang menghubungkan kawasan pusat kota sampai dengan ke sisi utara," tambah Tuhiyat.
Baca juga:
Revitalisasi Kawasan Tua Jakarta Dimulai 2026, MRT Jadi Kunci Konektivitas
Konsep TOD dan Dukungan Dana Jepang
Berbeda dengan fase sebelumnya, pembangunan Fase 2A ini mengusung konsep Kawasan Berorientasi Transit (Transit-Oriented Development/TOD). Konsep ini mengintegrasikan fungsi transit dengan ruang publik, bangunan, dan aktivitas manusia untuk menciptakan akses transportasi yang lebih efisien.
Proyek raksasa ini menelan biaya sekitar Rp25,3 triliun yang bersumber dari pinjaman kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jepang melalui JICA (Japan International Cooperation Agency).
Sementara itu, untuk Fase 2B yang menghubungkan Kota hingga Depo Ancol Barat, saat ini masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study).