MERAHPUTIH.COM - KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatra menjadi persoalan yang mengusik kehidupan masyarakat. Di tengah kondisi tersebut, sekelompok seniman dari Jambi dan Palembang memilih jalur seni untuk menyampaikan kritik dan keresahan mereka. Melalui karya seni visual, fotografi konseptual, hingga pertunjukan, mereka menghadirkan gambaran tentang kerusakan lingkungan sekaligus dampaknya terhadap kehidupan manusia.
Salah satu seniman yang terlibat dalam upaya tersebut yakni Ichalago Chaniago, seniman asal Jambi yang memanfaatkan fotografi sebagai medium untuk menyuarakan kegelisahan terhadap kondisi lingkungan di daerahnya. Melalui rangkaian foto yang dibagikan di akun Instagram pribadinya, @ichalago, ia mempertemukan identitas budaya dengan lanskap hutan yang hangus terbakar.
Dalam karya tersebut, sejumlah perempuan terlihat mengenakan pakaian adat tradisional Jambi berwarna merah dan hitam, lengkap dengan masker yang menutupi wajah mereka. Mereka berdiri di tengah hamparan lahan bekas kebakaran, dikelilingi batang-batang pohon yang menghitam, sisa abu, dan lanskap yang kehilangan kehijauannya.
Kontras antara busana adat yang kaya warna dan lingkungan yang rusak menjadi elemen penting dalam komposisi visual tersebut. Pakaian tradisional merepresentasikan identitas serta kekayaan budaya masyarakat, sedangkan masker menggambarkan kenyataan ketika udara yang seharusnya menjadi bagian paling mendasar dalam kehidupan justru berubah menjadi ancaman.
Baca juga:
Karhutla Ganggu Penerbangan di Kalimantan, 1.673 Penerbangan Domestik Terdampak
Melalui pendekatan itu, Ichalago tidak sekadar memperlihatkan kerusakan hutan sebagai persoalan ekologis. Ia juga membawa perhatian pada manusia yang harus menjalani keseharian di tengah kepungan asap. Mata yang terasa perih, tenggorokan yang sakit, hingga anak-anak yang kesulitan bernapas menjadi bagian dari keresahan yang disampaikan melalui karya tersebut.
Dalam konteks karya Ichalago, penggunaan busana adat di tengah hutan yang terbakar juga membawa lapisan makna mengenai hubungan antara lingkungan dan kebudayaan. Alam bukan sekadar latar tempat manusia menjalani kehidupan, melainkan ruang yang menopang keberlangsungan tradisi, aktivitas sosial, dan kehidupan berbagai makhluk.
Ketika hutan rusak dan udara tercemar, dampaknya tidak berhenti pada hilangnya pepohonan. Masyarakat turut menghadapi gangguan kesehatan dan aktivitas sehari-hari, sedangkan ekosistem yang menjadi tempat hidup berbagai satwa juga terancam. Dengan demikian, persoalan karhutla menyentuh banyak aspek kehidupan yang berkaitan.
Lewat fotografi, lukisan, dan pertunjukan, Ichalago bersama kolektif seniman dari Jambi dan Palembang menyampaikan harapan yang sederhana, tetapi mendasar: hutan yang terjaga, langit yang kembali biru, dan udara bersih yang dapat dihirup tanpa rasa takut. Menurutnya, memperoleh udara yang sehat bukanlah kemewahan, melainkan hak setiap makhluk hidup.(Far)
Baca juga: