Kisah Bakti Anak di Balik Kemegahan sang Garuda, Landmark Baru Bali
Kamis, 10 Mei 2018 -
TAK ada habisnya hal menarik dari Pulau Dewata. Keindahan alam yang berpadu dengan kehidupan religius penduduknya membawa atmosfer magis pada pulau kecil di kawasan tengah Indonesia tersebut. Yang terbaru, Bali akan memiliki sebuah landmark megah berbentuk patung Garuda yang sedang ditunggangi Dewa Wisnu.
Ya, benar banget! Landmark tersebut ialah patung Garuda Wisnu Kencana yang terletak di Garuda Wisnu Kencana Cultural Park di kawasan Ungasan, Badung, Bali. Penyelesaian patung megah itu memang telah tertunda selama hampir 20 tahun. Ide awal pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana dengan ukuran raksasa itu digagas seniman I Nyoman Nuarta pada 1993. Ide brilian itu bertujuan menciptakan landmark baru di Pulau Bali.
Empat tahun kemudian, tepatnya pada 1997, barulah dilakukan peletakan batu pertama di kawasan Bukit Jimbaran. Pemilihan lokasi amat terkait dengan pertimbangan kelestarian lingkungan. Wilayah perbukitan di Jimbaran yang merupakan tanah kapur dianggap tidak akan mengganggu lahan produktif. Selain itu, wilayah Jimbaran berada di selatan Pulau Bali yang merupakan sentra pariwisata.
Namun, pembangunan megaproyek itu dalam perjalanannya menuai banyak pro dan kontra. Hingga akhirnya, taman Garuda Wisnu Kencana dibuka untuk umum pada 2003 dalam kondisi patung yang masih setengah jadi. Tahun ini, patung megah tersebut ditargetkan rampung untuk menyambut ajang pertemuan IMF di Bali, Oktober mendatang.
Mencatat Rekor
Awalnya, patung Garuda Wisnu Kencana dibangun setinggi 75 meter. Namun, agar jadi lebih megah, direncanakanlah untuk membangun gedung yang dijadikan fondasi setinggi 45 meter. Dengan ukuran tinggi patung 120 meter dan lebar 64 meter, patung GWK akan jadi yang terbesar dan termegah di dunia.
Megaproyek patung Garuda Wisnu Kencana memiliki desain yang unik. Patung megah tersebut terbuat dari campuran tembaga dan baja seberat 3.000 ton. Kesemuanta dibagi dalam 747 modul dengan 22 segmen baja. Ada 3 bagian di patung GWK yang berisikan ornamen mozaik yang berwarna keemasan, yaitu badong (kalung), bahu, dan mahkota Wisnu.
Dengan ukuran semegah itu, patung tersebut diproyeksikan memiliki jarak pandang mencapai 20 km. Jarak itu berarti landmark baru Bali ini bisa terlihat dari Kuta, Sanur, Nusa Dua, hingga Tanah Lot.
Direncanakan, patung megah itu akan selesai pada September 2018. Dengan tinggi 120 meter, patung GWK jadi patung kedua tertinggi di dunia, setelah The Spring Temple Buddha di Henan, Tiongkok, yang memiliki ketinggian 128 meter. Namun, tinggi GWK itu melebihi tinggi Patung Liberty di Amerika Serikat (93 meter).
Kisah sang Garuda
Sesuai dengan namanya, patung GWK mencuplik kisah sang Garuda yang merupakan tunggangan Dewa Wisnu. Garuda sendiri ialah anak dari Rsi Kasyapa dari Winata.
Kisah Garuda hingga menjadi tunggangan Wisnu berawal dari peseteruan antara dua istri Rsi Kasyapa, yakni Kadru dan Winata. Kadru yang dikarunai anak para Naga selalu menaruh rasa iri dengki kepada Winata yang beranak sang Garuda.
Kadru pun selalu melancarkan rencana jahat agar Winata terbuang dari keluarga sang rsi. Alkisah, para dewa tengah mengaduk-aduk samudra luas untuk menemukan Tirta Amartha. Air kehidupa itu dipercaya bisa memberikan hidup kekal walau hanya diminum setetes.
Saat samudra tengah diaduk, muncullan sosok kuda terbang Ucaihswara. Di sanalah Kadru melancarkan niat jahatnya. Ia menantang Winata untuk menebak warna Ucaihswara yang belum pernah mereka lihat. Winata pun menyanggupi tantangan tersebut. Perjanjiannya, siapa pun yang kalah harus bersedia menjadi budak dan selalu mentaati seluruh perintah dari yang menang.
Kadru menebak warna kuda itu hitam, sedangkan Winata menerka dengan warna putih. Dengan akal bulus, Kadru mengirim Naga anaknya untuk mencari tahu warna kuda tersebut. Saat mengetahui warna kuda itu putih, Kadru pun memerintahkan sang anak untuk menyemburkan bisa ke sang kuda agar warnanya berubah jadi kehitaman.
Terjadilah, kuda yang berwarna putih itu pun berubah menjadi kehitaman. Winata yang merasa telah kalah dalam pertaruhan itu pun menerima nasibnya menjadi budak Kadru seumur hidupnya.
Namun, diam-diam, sang Garuda mengetahui akal licik Kadru. Ia pun tak tinggal diam. Demi membalaskan amarahnya, Garuda pun melawan anak Kadru, yakni sang Naga. Pertarungan itu berlangsung sengit. Siang dan malam keduanya beradu kekuatan. Hasilnya selalu imbang, hingga akhirnya sang Naga mengajukan syarat untuk pembebasan Winata. Ia mengharuskan Garuda membawakan Tirta Amartha yang tak diketahui keberadaannya kepada sang Naga.
Demi baktinya kepada ibu, Garuda pun menyanggupi. Ia pun bertualang mencari air kehidupan tersebut. Di tengah petualangannya, sang Garuda bertemu dengan Dewa Wisnu yang membawa Tirtha Amartha. Garuda kemudian meminta Tirtha Amertha itu, Dewa Wisnu menyanggupinya dengan syarat Garuda mau menjadi tunggangan Dewa Wisnu dalam tugasnya menjaga dunia.
Garuda menyetujuinya dan mendapat Tirta Amartha. Dengan berwadahkan kamandalu (bejana) berikatkan tali rumput ilalang, ia membawakan air tersebut kepada Naga. Namun sebelum Naga sempat meminumnya, tirta itu terlebih dahulu diambil Dewa Indra yang kebetulan lewat. Meskipun demikian, beberapa tetes tirta itu masih tertinggal di tali rumput ilalang. Naga kemudian menjilat rumput ilalang tersebut yang ternyata sangat tajam dan lebih tajam daripada pisau. Karena itulah lidah Naga terbelah menjadi dua ujung. Lidah terbelah itu bahkan dibawa hingga keturunan Naga. Keberhasilan sang Garuda itu membuat Winata dibebaskan dari jeratan perbudakan.
Filosofi di balik kisah itulah yang juga menginspirasi para pendiri bangsa ini menggunakan Garuda sebagai lambang negara. Kisah bakti Garuda kepada sang ibu melambangkan dedikasi anak bangsa kepada tanah air mereka. Selain itu, usaha tak kenal lelah Garuda untuk membebaskan Winata dari perbudakan amat pas mewakili perjuangan Indonesia untuk lepas dari penjajahan.(dwi)