Kesultanan Banten Musuh Bebuyutan VOC (4)
Jumat, 05 Februari 2016 -
MerahPutih Budaya - Kerajaan Islam Banten merupakan salah satu kerajaan Islam di Pulau Jawa. Kerajaan yang disebut juga sebagai Kesultanan Banten itu berawal dari penyebaran Islam oleh salah satu Walisongo Sunan Gunung Jati. Kesultanan Banten merupakan salah satu kerajaan di Nusantara yang sangat menetang keberadaan Belanda melalui kamar dagangnya Vereenig-de Oost-Indische Compagnie (VOC) atau Perserikatan Maskapai Hindia Timur.
MC Ricklefs dalam bukunya "Sejarah Indonesia Modern: 1200-2004" menyatakan, kemenangan Belanda atas Banten di Jayakarta pada tahun 1619 merupakan langkah penting orang-orang Belanda sejak kapal pertama mereka berlayar ke Timur. Jayakerta menjadi maskar kerajaan niaga yang luas. VOC kemudian membangun pusat militer dan administrasi. Sejak saat itu, kekuasaan VOC di Jayakerta selalu mendapat serangan dari Banten dari wilayah barat.
Banten dipandang sebagai kerjaan yang berbahaya dan sangat dekat dengan pusat kerajaan dagang mereka di Batavia. Banten merupakan kerajaan yang sangat kuat dan kaya saat itu sebagai pusat lada, dan belanda ingin menguasai pusat perdagangan itu.
Perang Belanda-Banten kembali pecah pada 1633-1639. Peperangan tersebut kemudian berakhir dengan kesepakatan untuk menghentikan permusuhan. Pada 1645, ditandatangani sebuah perjanjian untuk mengatur hubungan VOC-Banten. Namun, perang kembali berkecamuk setelah Sultan Ageng Tirtayasa naik tahta pada 1651. Pada 1656, pihak Banten menyerang daerah-daerah Batavia dan kapal-kapal VOC. VOC memblokade pelabuhan.
Sultan Ageng Tirtayasa merupakan musuh VOC yang tangguh. Ia adalah pemimpin Banten yang sangat menentang penjajahan Belanda. Pada akhirnya, Belanda menghentikan perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa melalui sebuah konflik internal kerajaan. Belanda untuk menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa dengan memengaruhi anaknya Sultan Haji. Sejak kesultanan Banten berada di tangan Sultan Haji, Belanda mencengkeram Banten hingga Kesultanan Banten berakhir.
BACA JUGA: