Kesultanan Banten Musuh Bebuyutan VOC (1)
Jumat, 05 Februari 2016 -
MerahPutih Budaya - Kerajaan Islam Banten merupakan salah satu kerajaan Islam di Pulau Jawa. Kerajaan yang disebut juga sebagai Kesultanan Banten itu berawal dari penyebaran Islam oleh salah satu Walisongo Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati bersama pasukan Kesultanan Demak yang ingin memperluas pengaruh ke Pulau Jawa bagian barat.
Sebelumnya, Kesultanan Banten merupakan kerajaan Banten Girang bagian dari Kerajaan Sunda. Perluasan pengaruh Kesultanan Demak juga untuk menghambat pergerakan Portugis yang mulai menjalin kerja sama dengan Kerajaan Sunda di Banten Girang.
Sejak kedatangan Belanda ke Pulau Jawa, Banten dianggap sebagai wilayah strategis dengan sumber alam yang besar. Belanda melabuhkan kapar ekspedisi pertamanya di wilayah Banten. Saat itu, kedatangan Belanda di Banten mendapat penolakan dari penduduk lokal dan juga orang-orang Portugis yang melakukan hubungan dagang dengan Banten.
MC Ricklefs dalam bukunya "Sejarah Indonesia Modern: 1200-2004" menceritakan, tahun 1595 ekspedisi Belanda yang pertama siap berlayar ke Hindia Timur dengan 4 buah kapal dengan 249 awak dan 64 pucuk meriam di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Kepergian ekspedisi Belanda itu untuk mengikuti jejak Portugis yang dianggap lebih dahulu menjelajah di Nusantara dan berhasil. Pada tahun itu, tim ekspedisi tidak berhasil karena perselisihan internal dan wabah penyakit sehingga harus kembali ke Negeri Belanda dengan menyisakan 89 awak.
Pada Juni 1696, Belanda kembali berlayar di bawah pimpinan yang sama Cornelis de Houtman. Belanda tiba di Banten yang saat itu merupakan pelabuhan lada terbesar di Jawa bagian barat. Kedatangan Belanda mendapat penolakan dari orang Banten dan Portugis yang sudah menjalin kerjas sama dagang Banten. Belanda kemudian meninggalkan Banten dan pergi ke wilayah timur menyusuri patai utara Pulau Jawa. Pada 1597, ekspedisi gagal itu kembali ke Negeri Belanda.
Meski Belanda gagal, tetapi sisa-sisa ekspedisi yang dipecundangi orang lokal dan pesaing Eropa mereka itu tetap membawa cukup banyak rempah-rempah di atas kapal mereka untuk menujukkan bahwa mereka memeroleh keuntungan. Ricklefs menyebut, jelaslah bahwa suatu pelayaran yang dipimpin oleh orang yang tak cakap pun dapat menghasilkan uang.
Sejak perjalanan pertama itu, Belanda mulai mempersiapkan ekspedisi-ekspedisi lanjutan. Mereka memperkuat armada. Kedatangan lanjutan mengarahkan kapal ke arah timur Nusantara. Belanda menyandarkan kapal ke Maluku. Perusahaan-perusahaan ekspedisi Belanda saling bersaing untuk mendapatkan keuntungan dari rempah-rempah Indonesia. Pada 1958, atau setahun setelah kekagalan pelayaran pertama mereka, 22 buah kapal milik lima perusahaan berbeda berlayar dan pulang setahun setelahnya dengan keuntungan mencapai 400 persen. (bersambung...)
BACA JUGA: