John Herdman Belum Mulai Bekerja, DPR Sudah Mulai Kirim Ultimatum

Kamis, 22 Januari 2026 - Angga Yudha Pratama

Merahputih.com - Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengirimkan ultiimatum kepada PSSI dan pelatih anyar Tim Nasional Indonesia, John Herdman.

Ia menegaskan agar wajah baru di kursi kepelatihan tidak menjadi alasan bagi federasi untuk kembali terjebak dalam pola pembangunan instan yang selama ini menghambat prestasi Garuda.

Penunjukan Herdman pada awal Januari 2026 untuk menggantikan Patrick Kluivert diharapkan menjadi titik balik, bukan sekadar pelipur lara atas kegagalan Indonesia menembus Piala Dunia 2026. Hetifah meminta PSSI berhenti menjadikan pergantian pelatih sebagai "obat darurat" setiap kali target gagal tercapai.

Baca juga:

John Herdman Jadi Pelatih, Saddil Ramdani Ungkap Kerinduan Berseragam Timnas Indonesia

“Sepak bola itu bukan proyek cepat saji. Kita butuh arah yang jelas, sistematis, dan jangka panjang. Jangan hanya fokus mengganti pelatih, tetapi membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan,” tegas Hetifah dalam pernyataan resminya, Rabu (21/1).

Fokus pada Fondasi, Bukan Sekadar Strategi

Politisi Fraksi Partai Golkar ini menyoroti bahwa masalah utama sepak bola nasional terletak pada akar rumput. Ia mendesak adanya penguatan akademi yang terintegrasi dan kompetisi yang memberikan ruang bagi pemain lokal untuk berkembang.

Menurutnya, tanpa fondasi yang kuat, pelatih kelas dunia sekalipun akan sulit memberikan prestasi yang stabil.

“Tanpa regenerasi yang kuat, sehebat apa pun strategi pelatih, hasilnya akan tetap sama, tersandung di tengah jalan,” ujar Hetifah dengan lugas.

Baca juga:

Segrup Vietnam di ASEAN Championship, Ujian Bagus untuk Timnas Indonesia Menurut John Herdman

Sistem di Atas Figur

Komisi X DPR RI berkomitmen untuk mengawal transformasi ini agar sepak bola Indonesia tidak lagi bergantung pada karisma satu atau dua orang saja.

Hetifah menginginkan adanya filosofi bermain yang baku dan sistem tata kelola yang tidak berubah-ubah meskipun nakhoda federasi atau pelatih berganti.

“Pelatih boleh berganti, tetapi arah pembangunan sepak bola nasional tidak boleh berubah setiap kali kita kalah. Kita harus bicara sistem, bukan sekadar figur,” jelas dia.

Bagikan

Baca Original Artikel
Bagikan