MerahPutih.com - Bangunan tua di Jalan Wotgandul Barat, Semarang itu, masih menyimpan denyut sejarah panjang industri kopi Indonesia.
Di tempat inilah bekas pabrik kopi legendaris Koffie Branderij Margo Redjo, yang berdiri sejak 1915, tetap hidup dan kini menjelma sebagai Dharma Boutique Roastery.
Baca juga:
Prabowo Heran Kopi Indonesia Terbaik Tapi Masih Impor, Pabrik Pohon Industri Jadi Solusi
Jejak Sejarah Kopi
Didirikan pertama kali di Bandung pada masa kolonial Belanda, pabrik kopi ini dipindahkan ke Semarang pada 1926. Sejak itu, usaha keluarga ini terus bertahan melewati satu abad perubahan.
“1915 itu kan di Bandung didirikan. Tahun 1926 beliau memindahkan usaha termasuk mesin-mesinnya ke Semarang, ke tempat lahirnya beliau,” kata pemilik Dharma Boutique Roastery, Hidayat Basuki Dharma Wiyono, kepada media baru-baru ini.
Nama baru dipilih setelah merek lama dibajak. “Nama lama pernah dibajak dan tidak kami gunakan lagi. Akhirnya saya pilih nama baru dari nama saya sendiri,” ujarnya.
Komitmen pada Kopi Lokal
Dharma menegaskan seluruh kopi yang dijual berasal dari Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua, dengan sekitar 50 jenis biji kopi.
“Kami tidak menjual kopi impor. Semua dari Indonesia. Kalau soal rasa, kopi kita tidak kalah. Kami ingin hasilnya kembali ke petani Indonesia,” tuturnya
Perkembangan industri kopi kini semakin pesat berkat keterlibatan generasi muda dengan latar belakang pendidikan pertanian.
Beragam metode pengolahan seperti proses basah, kering, hingga fermentasi menghasilkan karakter rasa yang semakin beragam.
Baca juga:
Rekomendasi Kuliner di Jalur Pantura saat Mudik: Empal Gentong Cirebon hingga Lumpia Semarang
Kokoh Jaga Tradisi Ratusan Tahun
Meski industri kopi modern berkembang, Dharma Boutique Roastery tetap mempertahankan metode sangrai manual menggunakan mesin berusia 100 tahun.
“Kami masih pakai cara manual. Hasilnya tidak kalah, tapi sekarang lebih berbasis ilmu,” imbuh Dharma, dilansir Antara.
Pengunjung yang datang tidak hanya membeli kopi, tetapi juga mendapat pengalaman edukatif. Mereka bisa mencium aroma biji kopi, mendengar penjelasan barista tentang asal-usul dan proses pengolahan, hingga belajar mengenali karakter rasa.
Dharma menilai kopi sebagai bentuk seni tanpa standar tunggal. “Kopi itu seni yang tidak ada habisnya. Tidak ada yang paling enak karena setiap orang punya selera sendiri,” tandasnya. (*)