Merahputih.com - Iran menegaskan tetap membuka pintu diplomasi dengan Amerika Serikat, tetapi pada saat yang sama menyatakan siap menghadapi kemungkinan serangan militer baru.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran siap kembali berunding dengan Washington, namun juga telah mempersiapkan diri jika konflik kembali pecah.
Baca juga:
Konflik Selat Hormuz Timur Tengah Masih Lanjut, Senat AS Tolak Resolusi Akhiri Konflik Iran
Kami siap untuk diplomasi. Pada saat yang sama, kami siap untuk perang,
kata Araghchi.
Sebelumnya, Panglima Tertinggi Angkatan Darat (AD) Iran Amir Hatami menegaskan bahwa perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap negara itu belum usai, dan "musuh" masih harus siap menerima "pukulan keras" dari angkatan bersenjata Iran.
Perang belum berakhir. Meskipun musuh yang agresif telah mengalami pukulan berat, mereka harus tetap siap menerima pukulan dahsyat berikutnya dari angkatan bersenjata Iran,
ujar Hatami.
Iran Tetap Buka Pintu Diplomasi
Araghchi juga mengungkapkan ketidakpercayaan Iran terhadap proses negosiasi dengan pemerintahan Trump. Ia menuduh Washington sebelumnya melakukan serangan ketika pembicaraan sedang berlangsung dan kemudian melanggar kesepakatan yang telah dicapai.
Baca juga:
Namun, ia menegaskan Iran tetap memilih jalur diplomasi selama peluang untuk mencapai perdamaian masih terbuka.
Saya tetap mengupayakan diplomasi karena menurut saya kita tidak boleh melewatkan kesempatan apa pun untuk perdamaian,
ujarnya.
Ketika ditanya apakah Iran mempercayai Trump, Araghchi menjawab bahwa Teheran lebih memilih mengandalkan dirinya sendiri.
Ia juga membantah tudingan bahwa Iran menjadi pihak pertama yang melanggar nota kesepahaman dengan AS pada Juni. Menurut Araghchi, jika Washington menilai Iran melanggar kesepakatan, mekanisme penyelesaian sengketa seharusnya digunakan alih-alih melakukan serangan militer.
Baca juga:
Siap Hadapi Serangan Baru
Di sisi lain, Araghchi menegaskan Iran telah mempelajari pengalaman dari pertempuran sebelumnya dan melakukan perubahan terhadap taktik militernya.
Ia menyatakan Teheran siap menghadapi kemungkinan serangan baru dari AS, bahkan jika konflik kembali berkembang menjadi perang berskala besar.
Menurut Araghchi, pilihan antara kembali menggunakan kekuatan militer atau membuka jalan menuju perundingan kini berada di tangan Presiden Trump.