Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Ilmuwan LIPI Jelaskan Penyebab Tsunami dan Gempa di Palu-Donggala

P Suryo R - Rabu, 03 Oktober 2018

BELUM sembuh luka bangsa Indonesia pasca gempa yang meluluhlantakan kota Lombok, kini Indonesia kembali berduka. Kali ini gempa menghampiri pulau Sulawesi tepatnya di wilayah Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Jumat (28/9) berkekuatan magnitude 7,4 yang berpotensi menyebabkan tsunami.

Negara Indonesia termasuk dalam salah satu negara yang rawan mengalami gempa bumi. Hal tersebut terjad karena secara geografis Indonesia merupakan pertemuan emat lempeng tektonik yakni lempeng Benua Asia, benua Australia, lempeng Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik.

Selain itu, Indonesia juga berada di kawasan sabuk vulkanik yang memanjang dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara hingga Sulawesi. Sementara di setiap sisi terdapat pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang didominasi oleh rawa-rawa.

gempa palu
Fakta Indonesia berada di beberapa lempeng dunia. (Foto: Twitter@Sutopo_PN)

“Fakta tersebut seharusnya membuat masyarakat Indonesia harus siap terhadap berbagai kemungkinan datangnya bencana alam,” ucap Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko.

Menurutnya, kesadaran masyarakat Indonesia akan bencana alam serta munculnya sikap siap siaga dapat distimulasi dengan publikasi jurnal ilmiah tentang kebencanaan.

Detail-detail fenomena alam yang menyebabkan gempa dan tsunami di Palu dan Donggala patut mendapat perhatian lebih. Ada sejumlah kondisi yang menyebabkan gempa dan tsunami dapat terjadi di wilayah Palu dan Donggala.

gempa palu
Sesear Palu Koro yang membelah Sulawesi. (Foto: Twitter@Sutopo_PN)

Menurut Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto, letak Palu berada di atas sesar Palu Koro. Sesar Palu Koro adalah patahan yang membelah Sulawesi menjadi bagian barat dan timur. “Sesar ini mempunyai pergerakan aktif dan jadi perhatian para peneliti geologi,” urai Eko.

Sementara potensi tsunami memungkinkan untuk terjadi sewaktu-waktu di sana karena sesar Palu Koro memiliki komponen deformasi vertical di dasar laut yang dapat memicu terjadinya tsunami. “Kawasan Teluk Palu hingga Donggala mempunyai bentuk mirip kanal tertutup dengan dasar laut yang curam. Akibatnya jika ada massa air laut datang, gelombangnya lebih tinggi dan kecepatannya lebih cepat,” jelas Peneliti bidang Geofisika Keluatan dari Pusat Penelitian Oseanografi, Nugroho Dwi Hananto.

Fakta-fakta tersebut membuat Pakar Kegempaan LIPI, Danny Hilman Natawidjaja meminta masyarakat untuk lebih peduli terhadap berbagai fenomena alam yang akan terjadi. Danny memita sumber-sumber pengetahuan yang berkaitan dengan kegempaan ditingkatkan. “Pengetahuan mitigasi bencana juga harus diperhatikan secara serius,” tukasnya. (avia)

Baca Artikel Asli