Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

IHSG Hari Ini Merah Merona! Sentimen Suku Bunga Global dan Timteng Bikin Pasar Galau

Angga Yudha Pratama - Rabu, 28 Oktober 2026

Merahputih.com - Pergerakan IHSG hari ini kembali lesu dan dibuka melemah karena para investor masih wait and see menunggu kepastian arah kebijakan moneter global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok 17,06 poin ke level 5.249,07 pada Rabu (28/10) pagi, memberi sinyal bahwa pasar saham sedang berhati-hati. Kondisi ini membuat pelaku pasar wajib memantau prediksi IHSG secara ketat agar tidak salah langkah dalam mengambil posisi.

Mengupas lebih dalam pergerakan saham BEI, kelompok 45 saham jagoan atau Indeks LQ45 juga ikut terseret turun 0,43 persen ke angka 530,72. Sentimen pasar saham saat ini memang sedang gampang goyah akibat tarik-ulur kebijakan bank sentral dunia.

Baca juga:

Prediksi IHSG Hari Ini: Pasar Sideways Menanti The Fed, Aturan Baru BEI Bakal Jadi Juru Selamat?

Para investor menebak-nebak apakah The Fed di Amerika Serikat dan European Central Bank (ECB) bakal menahan suku bunga acuan mereka pekan ini.

Keputusan dua raksasa finansial tersebut jelas menjadi kompas utama untuk menentukan ke mana arus dana investasi akan bermuara, sembari menunggu rilis data ekonomi AS yang bisa memberi bocoran soal ruang pelonggaran moneter ke depannya.


Analisis Teknikal: Waspada Support Jebol

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengingatkan bahwa posisi indeks saat ini cukup rawan dan membutuhkan pantauan ekstra dari para trader.

IHSG diperkirakan rentan lanjut menguji support terdekat di 5.185, Jika breakdown, IHSG bisa lanjut menuju support 5.012 atau 4.980. Sedangkan jika IHSG rebound resistance terdekat di level 5.317, jika mampu break IHSG bisa kembali di kisaran resistance 5.349 atau 5.418,

kata Liza.

Perdagangan

Sentimen Geopolitik: Lobi Diplomatik vs Ancaman Keamanan

Beralih ke isu eksternal, tensi di Timur Tengah memberikan sinyal yang campur aduk bagi pasar. Di satu sisi, ada secercah harapan dari lobi-lobi diplomatik setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyerukan agar situasi "bukan perang maupun damai" segera disudahi.

Hal ini direspons dengan pertemuan pejabat Arab Saudi, Pakistan, dan Turki di Teheran, disusul rencana pertemuan Vladimir Putin dengan Presiden Iran di Moskow.

Namun, ancaman di lapangan masih terlalu nyata untuk diabaikan begitu saja. “Meski membuka peluang deeskalasi, serangan Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi serta serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz menunjukkan bahwa risiko keamanan regional masih belum mereda,” tegas Liza.

Faktor Domestik: Menjaga APBN di Tengah Tekanan Rupiah

Dari dalam negeri, manuver Bank Indonesia (BI) yang menahan BI Rate di angka 5,75 persen minggu lalu cukup menenangkan pasar. Di saat yang sama, OJK bersama BEI juga sedang rajin merilis inisiatif baru demi mendongkrak kepercayaan investor, terutama di tengah proses evaluasi oleh penyedia indeks global MSCI.

Menjelang libur Nataru 2026, pemerintah juga tengah putar otak merancang stimulus. Rencana pemberian diskon tarif listrik, tiket pesawat, hingga penambahan kuota BBM bersubsidi disiapkan agar daya beli masyarakat tidak rontok tergerus inflasi.

"Namun, stimulus itu perlu mempertimbangkan keterbatasan ruang fiskal dan tambahan beban subsidi energi," kata Liza.

Tantangan fiskal ini diamini oleh CORE Indonesia yang memprediksi ruang fiskal menuju batas defisit 3 persen terhadap PDB hanya tersisa sekitar Rp39 triliun.

Meskipun Kementerian Keuangan optimis defisit APBN 2026 terkendali di 2,85 persen, pelemahan Rupiah yang menyentuh Rp18.156 per dolar AS dan meroketnya harga minyak Brent ke 115,81 dolar AS bisa memicu bengkaknya subsidi energi.

"Pemerintah juga perlu mewaspadai risiko penundaan pembayaran kompensasi kepada Pertamina dan PLN, karena langkah tersebut hanya menggeser beban fiskal ke tahun berikutnya," pungkas Liza.


Bursa Global Asyik Pesta, Asia Bergerak Variatif

Sebagai perbandingan, pasar saham luar negeri justru sedang sumringah. Wall Street kompak menghijau pada Selasa (27/10) lalu, dipimpin oleh lonjakan Nasdaq sebesar 1,18 persen.

Baca juga:

Di Tengah Isu MSCI, OJK Yakinkan Pasar Modal Tempat Investasi Jangka Panjang Masyarakat Indonesia

Senada dengan AS, bursa Eropa juga mayoritas positif; Euro Stoxx 50 dan DAX Jerman melaju santai di atas 0,7 persen.

Di regional Asia, suasana pagi ini cukup bervariasi. Indeks Nikkei Jepang melesat 1,20 persen ke 64.030,00, dan Kospi Korea Selatan ngamuk hingga meroket 5,94 persen.

Sayangnya, euforia ini belum mampu menular ke IHSG yang masih harus berjuang keras mencari momentum untuk memantul ke zona hijau.

Baca Artikel Asli