Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

IHSG Hari Ini Anjlok Mengekor Bursa Global, Benarkah Suku Bunga The Fed Jadi Biang Kerok?

Angga Yudha Pratama - Selasa, 29 September 2026

Merahputih.com - Pergerakan IHSG anjlok pada perdagangan Selasa ini, sejalan dengan tren negatif yang sedang melanda bursa saham Asia dan pasar global secara keseluruhan.

Penyebab utama lesunya pergerakan saham hari ini didorong oleh kepanikan investor terhadap potensi inflasi Amerika Serikat dan sinyal kuat kenaikan suku bunga The Fed.

Buat kamu yang sedang memantau portofolio, ada baiknya lebih waspada karena indeks domestik diprediksi akan terus menguji level support krusialnya akibat tekanan eksternal ini.

Baca juga:

IHSG Hari Ini Anjlok Efek Aturan Baru Harga Saham Rp1, Saham-Saham 'Gocap' Berpotensi Runtuh

Efek domino dari melemahnya bursa saham global langsung terasa di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak bel pembukaan berbunyi. Indeks utama kita dibuka loyo, merosot 29,05 poin atau sekitar 0,47 persen ke posisi 6.118,81.

Nasib serupa juga dialami oleh kelompok saham blue chip, di mana Indeks LQ45 ikut tergelincir turun 0,66 persen ke level 607,77.

Kondisi pasar saham hari ini memang sedang kurang bersahabat, membuat para trader harus ekstra hati-hati mengambil posisi, apalagi dampak suku bunga The Fed makin membayangi sentimen market ke depannya.

Prediksi IHSG: Hati-Hati Uji Level Support Baru

Ilustrasi

Melihat laju indeks yang sedang terseok-seok menahan sentimen jual, analis mengingatkan pelaku pasar untuk tidak buru-buru agresif.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memberikan pandangannya terkait arah pergerakan pasar dalam waktu dekat.

Diperkirakan IHSG akan menguji level support berikutnya di 6.000- 6.100,

ujar Ratna Lim.

Biang Kerok dari Negeri Paman Sam

Kenapa sih pasar luar negeri mendadak panik? Ratna menjelaskan bahwa kekhawatiran soal inflasi akibat lonjakan harga energi sedang menjadi sorotan utama.

Ditambah lagi, market mulai cemas melihat besarnya tumpukan utang perusahaan yang diterbitkan demi mendanai infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Sinyal The Fed yang masih ingin mengerek suku bunga membuat investor ramai-ramai melakukan aksi obral obligasi pemerintah AS.

Buktinya, imbal hasil obligasi 10 tahun (US 10-year Bond Yield) melesat lebih dari 5 bps ke level 5,234 persen pada Senin (28/9).

Sepanjang pekan ini, semua mata investor akan tertuju pada rilis data penting AS sebagai kompas kebijakan moneter, meliputi:

  • PCE (Price Consumer Index): Indikator inflasi andalan The Fed yang rilis Rabu (30/9).

  • JOLTS (Job Openings and Labor Turnover): Data lowongan kerja bulan Agustus 2026 yang rilis Selasa (29/9).

  • NFP (NonFarm Payrolls): Laporan tenaga kerja bulan September 2026 yang rilis Jumat (02/10).

Efek Harga Minyak dan Manuver Cerdas Bank Indonesia

Bergeser ke pasar komoditas, harga minyak mentah perlahan turun pasca Arab Saudi memperbaiki jalur pipa vital Timur-Barat. Minyak Brent ditutup pada level USD 108 per barel.

Meski begitu, ketidakpastian konflik di Timur Tengah tetap menyimpan bom waktu. Kalau harga minyak dunia kembali melonjak, inflasi dalam negeri bisa ikut meroket dan memaksa Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga.

Saat ini, BI masih menahan suku bunga acuan (BI Rate) di angka 5,75 persen. Alasannya rasional: setiap kenaikan 25 bps berisiko memangkas pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 0,1 persen. Lalu, bagaimana cara BI meredam efek dolar yang menguat dan mencegah dana asing kabur (capital outflow)?

Alih-alih menaikkan suku bunga, BI memilih jurus insentif biaya lindung nilai (hedging). Strategi pro-pertumbuhan ini terbukti sukses memancing aliran modal masuk hingga USD 6 miliar lewat Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) maupun instrumen swap dalam sebulan terakhir.

Rapor Merah Bursa Global dan Regional Asia

Baca juga:

IHSG Hari Ini Merah Padam! Drama Trump-Xi Jinping Bikin Pasar Saham Asia Rontok

Kepanikan soal inflasi dan suku bunga ini terekam jelas di papan bursa seluruh dunia yang dominan kebakaran jenggot. Berikut rangkuman pergerakannya:

  • Wall Street AS (Senin, 28/9): Kompak ditutup melemah. S&P 500 melorot 0,77% (ke 7.683,69), Nasdaq merosot 0,92% (ke 26.820,38), dan Dow Jones minus 0,67% (ke 51.481,51).

  • Bursa Eropa (Senin, 28/9): Bergerak galau alias variatif. Euro Stoxx 50 dan CAC 40 Prancis naik sangat tipis, sementara FTSE 100 Inggris dan DAX Jerman masuk zona merah.

  • Bursa Asia (Selasa Pagi): Ikut terseret arus negatif. Nikkei Jepang memimpin pelemahan dengan turun 0,87%, Hang Seng Hong Kong turun 0,80%, disusul oleh pelemahan tipis pada bursa Shanghai, Kospi, dan Straits Times Singapura.

Baca Artikel Asli