Eulogi untuk Ben Mboi
Jumat, 26 Juni 2015 -
MerahPutih Nasional - Brigadir Jenderal TNI (Purn) dr Aloysius Benedictus Mboi yang akrab disapa Ben Mboi dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Jakarta pada Kamis (25/6). Ben Mboi meninggal dalam usia 80 tahun. Pemakaman dilakukan secara militer.
Pemakaman bekas Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) dua periode dilakukan secara militer. Sejumlah pasukan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) terlihat membawa foto Ben Mbai, sebagian lain nampak membawa karangan bunga. Sementara itu sejumlah anggota Komando Cadangan Strategis (Kostrad) juga nampak dalam acara pemakaman suami mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi.
Prosesi pemakaman berlangsung dengan khidmat. Isak tangis terdengar dari para pelayat. Sementara itu Nafsiah Mboi terlihat menitikkan air mata. Usai jenazah dikebumikan prosesi tabur bungan dilakukan keluarga dekat Ben Mboi dan juga kerabat.
Ben Mboi sendiri lahir di Ruteng, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 22 Mei 1935. Ia meninggal karena penyakit komplikasi pada Selasa (23/6) setelah di rawat di Rumah Sakit Pondok Indah. Mendiang Ben Mboi meninggalkan 2 orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.
Sebelum menjadi Gubernur NTT periode (1978-1988), Ben Mboi adalah seorang prajurit korps baret merah. Ia bertugas sebagai dokter dan pernah terlibat dalam Operasi Trikora, sebuah operasi militer di zaman Presiden Sukarno untuk membebaskan Irian Barat dari cengkraman Kolonial Belanda.
Bukan perkara mudah bagi Ben Mboi untuk bisa tampil di panggung kekuasaan dan menjadi orang pertama di NTT. Hidupnya penuh dengan perjuangan untuk meraih kedudukan mulia dalam hidup. Setamat dari Sekolah Dasar (SD) di Manggarai, Flores ia merantau ke Kupang untuk melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Setalah menamatkan SMP Ben melanjutkan sekolah ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Saint Albertus di Malang. Murid anak orang miskin ini tidak mampu membayar uang sekolah. Pastor Direktur SMA orang Belanda bingung karena menurut aturan tiap siswa harus bayar uang sekolah. Karena Ben siswa yang amat pintar, direktur mencari jalan. Ben ditugaskan menyapu, mengepel lantai, dan membersihkan WC. Dari kerja itu ia seolah digaji dan gajinya ini langsung dicatat sebagai uang sekolah yang dibayar Ben.
Setamat SMA, tetap dengan modal nekat, Ben Mboi mendaftar masuk Fakultas Kedokteran UI. Ia indekos dan tidak bisa bayar juga. Tapi Ben yang miskin menggunakan otaknya dengan rajin membantu kerja rumah tangga ibu kos. Dampaknya ibu kos membebaskan biaya bayar kos. Ben lalu mengajar di SMA Antonius di Matraman untuk mendukung biaya kuliah di UI.
Setalah tamat dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1962, Ben Mboi masuk dinas tentara dan menjadi dokter tentara. Di bawah Komandan Benny Moerdani, Ben Mboi bertugas dalam operasi Trikora. Sebuah operasi militer di zaman Presiden Sukarno untuk merebut Irian Barat dari cengkraman Kolonial Belanda.
Selama bertugas menjadi dokter militer, Ben Mboi menunjukkan performa bagus. Atas kinerjanya yang mumpuni ia diangkat menjadi Kapten. Kemudian pada tahun 1978 ia menjadi Gubernur menggantikan El Tari. Selama menjadi orang nomor satu di NTTY tercatat sejumlah program unggulan yang dinilai berhasil, sebut saja Operasi Nusa Makmur (ONM) dan Operasi Nusa Hijau (ONH).
Program ONM sendiri dicanangkan Ben Mboi untuk memerangi gerakan kemiskinan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan pangan. Operasi tersebut juga meliputi penggunaan bibit unggul, pupuk, penggunaan lahan dan pemanfaatan irigasi di sawah-sawah. Untuk mengimplementasikan program tersebut, negara memberikan kemudahan bagi penduduk dengan konsep Kredit Bimbingan Masyarakat (Bimas). Program tersebut berjalan selama 10 tahun. Walhasil jumlah produksi pangan semisal padi, jagung dan kapas mengalami peningkatan. Luas areak persawahan dan perkebunan juga mengalami kenaikan signifikan dari 5.000 hektare menjadi 150.000 hektare.
Setelah dinilai berhasil, Ben Mboi meluncurkan program
Operasi Nusa Hijau (ONH). Ben Mboi paham betul dengan karakteristik NTT yang dipenuhi dengan sabana dan stepa. Di tengah hamparan padang rumput luas, Ben paham apa yang harus ia lakukan untuk mendongkrak pendapatan masyarakat sekitar.
Ia membuat terasering di bukit-bukit yang dipenuhi dengan padang rumput. Terasing dibuat dengan tujuan menahan laju air agar tidak terjadi longsor dan banjir. Kemudian pada bagian terasering tersebut ditanam bibit Lamtoro dan Gamal. Program tersebut di wilayah Flores. Dikatakan sukses karena beberapa bukit sabana dan stepa berubah menjadi hutan Lamtoro dan Gamal.
Lamtoro mempunyai banyak fungsi, daun dan buahnya untuk pakan ternak. Sementara batangnya dijadikan kayu api, karena saat itu wilayah NTT belum dialiri listrik. Ben juga dinilai sebagai sukses dan meninggalkan banyak jejak nyata bagi warga NTT.
Ben Mboi termasuk kepala daerah pertama di Indonesia yang menerima penghargaan Ramon Magsaysay yang merupakan penghargaan bergengsi dari pemerintahan Filipina atas kesuksesannya di bidang Goverment Service pada tahun 1986. (bhd)
BACA JUGA:
Ucapan Duka Prabowo untuk Ben Mboi