MerahPutih.com - Setelah lebih dulu memperkenalkan identitas musikal melalui sederet single seperti Love Ya, Cowok Red Flag, dan Second Choice, duo DJ asal Indonesia, DNA yang digawangi JayJax dan Mister Aloy, akhirnya resmi merilis album perdana bertajuk OURORA;.
Album debut ini menjadi proyek paling ambisius yang pernah mereka kerjakan. Berisi 18 lagu dengan total durasi sekitar 1 jam 48 menit, OURORA; menghadirkan eksplorasi lintas genre tanpa terpaku pada satu warna musik.
Meski tetap mempertahankan karakter Indo Bounce yang telah menjadi ciri khas DNA di berbagai panggung klub, album ini juga mengeksplorasi techno, dirty dutch, drum and bass, hingga trap sebagai bentuk ekspresi musikal mereka.
Dari dulu memang pengen (rilis musik). Tapi baru ada kesempatan untuk buat rilisan yang 'disengaja' itu dari 2023 September. Akhirnya kita keluarkan per-Q (quarter) single-single yang akan ada di OURORA; dengan genre yang tidak kita mainkan saat di club,
Aloy.
Perjalanan Musikal DNA Dibuka Lewat OURORA;
Perjalanan album diawali melalui Who tf are we, sebuah intro yang memperkenalkan sosok DNA sekaligus menjadi ruang bagi JayJax dan Mister Aloy untuk berbincang secara terbuka mengenai perjalanan mereka, identitas musikal, hingga harapan yang ingin diwujudkan di masa depan.
Atmosfer kemudian berlanjut ke Quest of The Sea, lagu bernuansa trap yang menjadi penghormatan terhadap akar musik mereka. Genre tersebut merupakan titik awal perjalanan DNA saat merilis Bass Up pada 2018.
Sesuai judulnya yang berarti Pencarian di Lautan, lagu tersebut menjadi simbol dimulainya petualangan musikal DNA.
Tanpa jeda yang terasa, album kemudian bertransisi menuju Two Heads. Lagu ini terbagi menjadi dua bagian dengan perubahan energi yang signifikan, bergerak dari dentuman trap menuju techno melalui dua drop yang intens.
Setelah itu, DNA menghadirkan kolaborasi pertama bersama PARKZ dalam lagu PAIN.
Sebagai sosok yang telah lama mendampingi DNA sebagai MC di berbagai penampilan live, PARKZ turut menyumbangkan vokal dalam tiga lagu di album ini. Seluruh lirik yang dibawakannya ditulis sendiri dengan memadukan nuansa emo dan punk ke dalam balutan produksi techno.
Baca juga:
JayJax dan TOXICDEV! Padukan Hyperpop dan Elektronik di Lagu 'FOMO'
Deretan Kolaborasi Warnai Album OURORA;
Usai rangkaian lagu berenergi tinggi, DNA menghadirkan suasana yang lebih hangat melalui lOst Together.
Selain menawarkan drop yang lebih lembut, lagu ini juga menjadi momen spesial bagi Mister Aloy karena untuk pertama kalinya terlibat sebagai penulis lirik.
Album kemudian berlanjut ke trek keenam lewat Cowok Red Flag, single andalan DNA bersama QG. Lagu hip-hop tersebut diperkaya sentuhan dangdut pada bagian drop sehingga menghasilkan perpaduan musik yang khas.
Memasuki pertengahan album, DNA kembali mengajak pendengar menelusuri perjalanan mereka melalui Love Ya, single yang telah lebih dulu dirilis bersama penyanyi dan rapper asal Bandung, SYEQY.
Nuansa musik kemudian bergeser menuju future house lewat Second Choice, hasil kolaborasi bersama INDAHKUS. Lagu ini menjadi penanda babak baru dalam alur album sebelum berlanjut ke interlude voy pa' alla.
Baca juga:
Adnan Veron Gandeng DØCI dan Chikita di 'MAMACITA', Anthem EDM Bernuansa Latin Penuh Energi
Menuju Klimaks hingga Penutup Album
Memasuki lagu kesepuluh, tempo kembali meningkat melalui komposisi yang diawali build-up modern sebelum meledak dengan sentuhan big room bergaya Eropa.
Energi tersebut diteruskan oleh PARKZ melalui Pop It, lagu yang menawarkan hook mudah diingat.
Menjelang akhir album, DNA menghadirkan sketsa terakhir bertajuk Ogoh-ogoh, yang menjadi penutup rangkaian narasi pendek yang tersebar di sepanjang album.
Setelah itu, pendengar disuguhkan salah satu kejutan terbesar melalui Don't Talk To Me. Lagu tersebut menjadi penampilan vokal penuh pertama Mister Aloy sepanjang kariernya sebagai musisi.
Dengan pengaruh musik klub era 2000-an, komposisi ini didominasi permainan synthesizer dan bass yang memperkuat hook utama lagu.
Meski rangkaian sketsa telah usai, Mister Aloy kembali hadir melalui monolog introspektif dalam Chaotic Silence, yang muncul setelah lagu Arcapada sebagai ruang refleksi sebelum album mencapai klimaks.
Menjelang penutup, PARKZ kembali berkolaborasi dalam Feel It Comin', sebuah lagu drum and bass yang enerjik sekaligus menjadi jembatan menuju trek terakhir.
Sebagai lagu penutup, DNA menggandeng YB atau Reza Oktavian dalam Anomali.
Lagu tersebut menjadi karya pertama YB yang sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia. Dipadukan dengan elemen BKB, trap, hentakan gendang, serta sentuhan suling khas Jawa Timur, Anomali juga menjadi kelanjutan benang merah yang sebelumnya dibangun melalui Cowok Red Flag.
Baca juga:
Kolaborasi dengan PARKZ, DNA Hadirkan Atmosfer Gelap dan Intens di Single 'PAIN'
OURORA; Jadi Representasi Perjalanan DNA
Lewat album debut OURORA;, DNA berharap para pendengar dapat mengenal mereka lebih dekat sekaligus ikut menyelami dunia musikal yang selama ini mereka bangun.
Album ini menjadi representasi perjalanan, eksplorasi, dan identitas JayJax serta Mister Aloy sebagai salah satu duo DJ Indonesia yang terus bereksperimen menghadirkan berbagai warna musik. (Far)