Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup

Kasus Demensia di Indonesia Diproyeksi Terus Naik, Pakar Ungkap Cara Menjaga Kesehatan Otak

Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 23 September 2026

MerahPutih.com - Perubahan gaya hidup dapat menjadi bagian dari upaya menekan risiko Alzheimer. Penyakit Alzheimer sendiri menyumbang sekitar 60–70 persen dari total kasus demensia.

Di Indonesia, kasus demensia diproyeksikan meningkat signifikan. Orang dengan demensia (ODD) diperkirakan bertambah dari 1,2 juta orang menjadi 2 juta jiwa pada 2030. Angka tersebut diproyeksikan kembali meningkat hingga sekitar 4 juta jiwa pada 2050, sejalan dengan populasi Indonesia yang semakin menua.

Karena itu, menjaga kesehatan otak tidak hanya perlu dilakukan ketika seseorang mulai mengalami gangguan daya ingat. Perubahan gaya hidup dapat menjadi bagian dari upaya menjaga fungsi kognitif dalam jangka panjang.

Memperingati Hari Alzheimer Sedunia yang jatuh pada 21 September 2026, para pakar medis dari IHH Healthcare Singapore membagikan sejumlah panduan mengenai pentingnya menjaga kesehatan otak dan mengenali tanda awal penurunan fungsi kognitif.

Baca juga:

Demensia Dapat Dicegah, Ayo Mulai Olahraga Hari ini

1. Terapkan Pola Makan yang Baik untuk Otak

Pola makan menjadi salah satu hal yang dapat diperhatikan untuk menjaga kesehatan otak. Salah satu pola yang banyak dibahas dalam penelitian mengenai kesehatan kognitif adalah diet MIND.

Diet MIND merupakan pola makan yang memadukan prinsip diet Mediterania dan DASH. Pola ini mengutamakan makanan seperti sayuran berdaun hijau, buah beri, kacang-kacangan, serta ikan yang mengandung lemak sehat.

Pola makan tersebut dinilai berkaitan dengan risiko penurunan fungsi kognitif yang lebih rendah. Karena itu, memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi dapat menjadi salah satu langkah untuk menjaga kesehatan otak sejak dini.

2. Rutin Melakukan Aktivitas Fisik

Bergerak aktif juga penting untuk menjaga kesehatan tubuh sekaligus mendukung kesehatan otak.

Materi edukasi dari para pakar menyarankan olahraga kardiovaskular dengan intensitas sedang setidaknya 150 menit setiap minggu. Aktivitas fisik membantu menjaga kesehatan kardiovaskular dan memperlancar aliran darah ke otak.

Kebiasaan berolahraga secara rutin dapat dimulai dengan aktivitas yang sesuai kemampuan masing-masing. Yang terpenting adalah menjadikannya bagian dari rutinitas sehari-hari.

3. Jangan Berhenti Menstimulasi Otak

Selain tubuh, otak juga perlu terus digunakan. Stimulasi mental dapat dilakukan dengan mencoba berbagai aktivitas yang membuat otak tetap aktif.

Beberapa contohnya adalah belajar bahasa asing, memainkan alat musik, atau mencoba hobi baru. Aktivitas semacam ini dapat menjadi cara untuk menjaga otak tetap mendapatkan rangsangan secara rutin.

Menjaga aktivitas mental juga menjadi bagian dari perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan jauh sebelum munculnya gejala penurunan fungsi kognitif.

Baca juga:

Hati-Hati, Hipertensi Tak Terkontrol Tingkatkan Risiko Alzheimer

4. Prioritaskan Kualitas Tidur

Tidur bukan sekadar waktu untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas sepanjang hari. Kualitas tidur juga memiliki kaitan dengan proses alami yang berlangsung di dalam otak.

Mendapatkan tidur yang cukup dan tidak terganggu selama sekitar 7–8 jam dapat mendukung proses alami otak dalam membersihkan zat sisa metabolisme. Proses tersebut termasuk pembersihan plak protein yang dikaitkan dengan penyakit Alzheimer.

Karena itu, menjaga waktu dan kualitas tidur menjadi salah satu kebiasaan penting dalam menjaga kesehatan otak.

5. Jaga Kesehatan Otak Sebelum Gejala Muncul

Upaya menjaga kesehatan otak sebaiknya tidak menunggu seseorang mengalami gangguan daya ingat. Perubahan gaya hidup justru dapat dilakukan jauh sebelum gejala muncul.

Hal ini penting karena penurunan daya ingat tidak selalu bisa dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Menurut literatur edukasi Kementerian Kesehatan RI, penurunan daya ingat dapat menjadi tanda awal gangguan neurokognitif.

Dr. Zhao Yi Jing, Spesialis Neurologi dari Mount Elizabeth Hospital, Singapura, menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara lupa yang masih wajar akibat usia dan gejala yang mengarah pada Alzheimer.

Seseorang yang lupa menaruh kunci, misalnya, masih dapat mengingat kembali fungsi benda tersebut. Namun, pada Alzheimer, gangguan dapat berkembang hingga seseorang lupa fungsi kunci, kesulitan melakukan rutinitas yang sebelumnya familiar, atau bahkan tersesat ketika melewati rute yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun.

Kondisi seperti itu menjadi tanda yang perlu mendapat evaluasi medis. Dengan mengenali perubahan tersebut lebih awal, keluarga dapat mencari bantuan medis dan mendapatkan penanganan yang sesuai. (Tka)

Baca Artikel Asli