PERNAKAH pria memandang dari kacamata perempuan. Pernahkah perempuan menunjukan keengganan melakukan kegiatan bercinta meskipun tengah lelah?
Nasehat para pakar keluarga atau pasangan pada seorang perempuan adalah menyingkirkan rasa lelah ketika suami atau pasangannya meminta bercinta. Seletih apapun harus dilayani.
Serba salah atau menjadi dilema bagi seorang perempuan. Ambil contoh saja seorang ibu muda yang sudah seharian menjaga anaknya yang masih kecil tentu mengalami kelelahan di malam hari. Namun di malam hari, suaminya dapat saja mencolek-colek dirinya mengajak bercinta.
Di satu sisi dirinya mengalami kelelahan. Namun disisi lainnya waktu berdua tanpa gangguan anak sangat sedikit.
Celakanya pria biasanya bersemangat melakukan percintaan walaupun badan terasa letih. Akibatnya si istri meskipun dengan kantuk yang menggelantung tetap melayani suaminya. Seorang perempuan tidak akan membantah apapun.
Laurel Steinberg, seksologis klinis dari New York, mengatakan bahwa hal ini bisa menjadi bumerang bagi si perempuan. Ini akan memberikan dampak buruk pada hubungannya. Mereka dapat saja menghindari suaminya. Bahkan kehilangan gairah bercinta.
Michael Aaron, psikoterapis dari Manhattan pun mengatakan bahwa halmini juga dapat berdampak pada si pria. Hubungan yang terjadi akan mendingin bila sudah berbicara kuantitas ketimbang kualitas. Terdapat kecenderungan untuk menghindari percintaan.
Sudah saatnya bila merasa percintaan menjadi beban mendatangi konsultan keluarga, demikian menurut psikolog Alexis Conason.
Yang harus diingat bahwa kebutuhan tidur adalah demi kesehatan. Kurangnya kualitas tidur dapat membuat kualitas hidup menurun.
Namun bila seseorang menganggap percintaan sebagai perekat hubungan, maka sengantuk apapun dapat dilakukan. Dengan catatan bukan sebagai hal yang memberatkan. (psr)