MerahPutih.com - Investor Australia berencana membangun infrastruktur kesehatan berupa rumah sakit senilai USD1 miliar di Indonesia. Hal ini tertuang dalam nota kesepahaman yang ditandatangani dalam West Java Investment Summit (WJIS) 2020.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia berjanji, melancarkan investasi tersebut, akan turun tangan sendiri mengurus percepatan perizinan investasi.
"Izinnya nanti saya sendiri yang langsung handle (tangani) sebagai bagian dari proses percepatan investasi dari perintah Presiden. Kita punya slogan, silakan investor datang, bawa modal, bawa teknologi, biar pemerintah melalui BKPM yang siapkan izin dan bantu cari lokasi paling murah dan kompetitif," jelas Bahlil.
Baca Juga:
BKPM Bikin Sistem Layanan Cepat Setelah UU Cipta Kerja Disahkan
Di tengah kondisi pandemi COVID-19, investasi di sektor kesehatan kini jadi salah satu prioritas yang didorong. Adanya UU Omnibus Law Cipta Kerja, diyakini Bahlil, diharapkan dapat ikut mengakselerasi proses investasi.
"Kita akan kasih kepastian, kemudahan bagi pengusaha, karena 90 persen industri kesehatan kita masih impor, jadi ini pasar yang bagus sekali," tutur Bahlil Lahadalia.
Dalam West Java Investment Summit 2020 yang digelar Senin, ditandatangani nota kesepahaman secara virtual antara PT Jasa Sarana, PT Rajawali Nusindo, dengan Aspen Medical Proprietary Limited. Aspen Medical Pty Ltd sendiri merupakan perusahaan asal Australia yang menyediakan layanan medis umum dan bedah.
Australia menjadi negara mitra investasi Indonesia. Pada 2016 menjadi negara ke 16 yang paling banyak menanamkan modal di Indonesia. Posisinya terus menanjak masuk ke jajaran 10 besar pada 2018-2019.
Ada pun pada periode Januari-September 2020 investasi Australia ke di Indonesia mencapai 269,6 juta dolar AS. Sementara sepanjang periode 2015-September 2020, realisasi investasi Australia di Indonesia mencapai USD2,07 miliar.
Bahlil Lahadalia menegaskan, bakal memberikan privilege (hak istimewa) khusus berupa insentif fiskalnya maupun insentif lainnya. Termasuk investasi energi baru dan terbarukan, di mana Australia ikut berpartisipasi dalam proyek pembangunan PLTA di Kayan (Kalimantan Utara) dan Membramo (Papua).
"Pengusaha Australia, Andrew Forrest, itu akan kerja sama bangun PLTA di Membramo dan Kayan. Dan sekarang kami fasilitasi beberapa perizinannya dan bahkan sudah melakukan studi. Kita support (dukung)," katanya.
Baca Juga:
17 Juta Warga Nganggur, BKPM Ogah Pilih Pilih Investasi