MERAHPUTIH.COM - KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan. Kondisi tersebut turut menyebabkan kualitas udara memburuk akibat kepulan asap yang menyelimuti beberapa daerah. Kementerian Kehutanan mencatat Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masih menjadi wilayah dengan konsentrasi titik panas yang tinggi. Pada 1 September 2026, tercatat 570 titik di Kalimantan Barat dan 488 hot spot di Kalimantan Tengah dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Dampak asap juga terasa pada kualitas udara. Di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, misalnya, ISPU sempat mencapai angka 1.919 pada 2 September 2026 atau masuk kategori berbahaya. Sejumlah wilayah lain seperti Pontianak Tenggara dan Kotawaringin Timur juga tercatat berada pada level yang sangat tinggi. Masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan untuk menekan paparan asap.
Seperti dilansir Kemenkes, asap karhutla bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Di dalamnya terdapat partikel halus, termasuk PM 2,5, yang dapat masuk jauh ke sistem pernapasan. Oleh karena itu, ketika seseorang harus beraktivitas di luar ruangan saat kondisi udara dipenuhi asap, penggunaan pelindung pernapasan yang tepat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan.
Baca juga:
Asap Karhutla Masuk ke Kabin Pesawat, Sherina Munaf Ikut Padamkan Api di Kalteng
1. Masker Respirator N95
N95 menjadi salah satu jenis respirator yang direkomendasikan ketika harus berada di luar ruangan dalam kondisi berasap. Respirator ini dirancang untuk menyaring partikel berukuran sangat kecil. Jika digunakan dengan benar serta menempel rapat pada wajah, masker ini dapat membantu mengurangi jumlah partikel asap yang terhirup. CDC dan NIOSH menyebut respirator N95 dapat memberikan perlindungan terhadap partikel berbahaya dalam asap kebakaran hutan.
Hal penting yang perlu diperhatikan yakni cara pemakaian. N95 harus menutup hidung dan mulut serta memiliki posisi yang cukup rapat di sekitar wajah. Jika terdapat celah antara masker dan kulit, udara yang mengandung partikel asap dapat masuk dari sisi masker.
2. Respirator P100
Selain N95, respirator P100 juga dapat digunakan untuk memberikan perlindungan terhadap partikel asap dan abu. EPA mencantumkan N95 maupun P100 sebagai respirator yang dapat membantu melindungi paru-paru dari asap atau abu akibat kebakaran.
P100 memiliki tingkat filtrasi partikel yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan N95. Namun, jenis respirator ini umumnya lebih berat dan tidak selalu praktis untuk digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Karena itu, penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan.
Bagaimana dengan Masker Bedah atau Masker Kain?
Masker bedah dan masker kain tidak menjadi pilihan utama untuk melindungi diri dari asap karhutla, terutama ketika konsentrasi partikel di udara sangat tinggi. Masker tersebut umumnya tidak dirancang untuk memberikan perlindungan yang sama terhadap partikel halus dari asap kebakaran.
Oleh karena itu, jika harus keluar rumah saat udara dipenuhi asap, masker N95 yang terpasang dengan baik lebih disarankan. Namun, masker bukan berarti membuat seseorang sepenuhnya aman dari paparan asap.
Cara Menggunakan N95 agar Lebih Efektif
Selain memilih jenis respirator yang tepat, penggunaannya juga perlu diperhatikan. Pastikan masker menutup hidung dan mulut serta tidak terlalu longgar. Periksa apakah terdapat kebocoran udara di bagian sisi masker ketika bernapas.
Masker N95 juga sebaiknya tidak dipakai jika sudah rusak, kotor, atau sulit digunakan untuk bernapas. Untuk respirator sekali pakai, ikuti petunjuk produsen mengenai penggunaan dan penggantiannya.
Hal yang tidak kalah penting, yakni disarankan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan tetap menjadi langkah utama ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya. CDC juga menyarankan masyarakat untuk tetap berada di dalam ruangan dengan udara yang lebih bersih jika memungkinkan.
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak karhutla, memantau kualitas udara secara berkala juga penting. Jika harus keluar rumah, penggunaan respirator yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan partikel asap, tetapi bukan pengganti upaya untuk menghindari sumber asap.
Jika muncul keluhan seperti batuk terus-menerus, sesak napas, nyeri dada, atau gejala lain yang mengkhawatirkan setelah terpapar asap, segera cari pertolongan medis.(far)
Baca juga:
Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat pada HUT RI, Warga Disarankan Pakai Masker