Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Ahmad Wahib Awards Sumber Toleransi Dan Pluralisme

Rendy Nugroho - Sabtu, 20 Desember 2014

MerahPutih Nasional - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap kegiatan penganugerahan Ahmad Wahib Award dapat dijadikan inspirasi bagi para pemuda untuk saling menghargai, memperjuangan toleransi dan pluralisme di tanah air.

"Kita perlu memliki kesadaran tersebut dalam menjaga toleransi," kata Lukman hakim saat menghadiri Malam Anugerah Ahmad Wahib Award 2014, yaitu sebuah penghargaan Kompetisi Esai, Blog dan Video Ahmad Wahib, seperti dikutip dari Kemenag.go.id, Jakarta, Sabtu (20/12).

Lukman yang juga politisi senior Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengaku mendapat amanah untuk mengurusi kehidupan keagamaan semua warga negara Indonesia. Dengan upaya menebarkan toleransi di tengah-tengah masyarakat yang merupakan sesuatu hal yang sangat penting untuk selalu dikembangkan.

Toleransi penting, lanjutnya, bukan semata karena Indonesia adalah bangsa yang plural, majemuk, beragam, dan hitrogen tapi memang perbedaan tersebut sesuatu yang given-sunatullah (pemberian) dari tuhan, yang mengehendaki perbedaan.

Menag berkisah bahwa dirinya mengenal Ahmad Wahib (alm) pada sekitar tahun 83-an sepulang mondok di Pesantren Gontor, Jawa Timur. Menurutnya, ada buku yang menjadi perbincangan anak-anak muda ketika itu dan selalu menjadi bahan diskusi yang menarik. Semenjak itulah Lukman muda tertarik membaca buku tentang pergolakan peradaban Islam sebagai sebuah catatan harian Ahmad Wahib.

Menag mengaku banyak hal yang sangat menarik terkait catatan harian Ahmad Wahib. Namun ada beberapa hal pula yang menjadi pertanyaan baginya, seperti salah satu petikan tentang “sebenarnya semua bisa bersatu”.

Toleransi dalam pandangan Menag bukan untuk menyatukan yang berbeda karena perbedaan itu niscaya. Telah dijelaskan di Al Qur’an, bila memang Tuhan menginginkan semua sama, sangatlah mudah. Namun nyatanya kita berbeda-beda dan karena perbedaan itulah kita menghadapi ujian-Nya. Dari situ, akan dilihat diantara kita mana yang paling banyak melakukan kebajikan.

"Sebenarnya perbedaan itu merupakan keniscayaan, karena masing-masing kita adalah manusia yang terbatas,” demikian Lukman.

Baca Artikel Asli