MERAHPUTIH.COM - ADIDAS meminta maaf setelah kampanye promosi koleksi terbaru mereka, 'Single Shoe Service' memicu kecaman dan seruan boikot. Kontroversi muncul setelah perusahaan olahraga asal Jerman itu menampilkan Shalev Biton, mantan tentara Israel, sebagai bintang iklan.
Dalam pernyataan tertulisnya, Adidas mengakui materi promosi yang digunakan tim lokal telah menimbulkan kekhawatiran di tengah publik.
“Kami menyadari gambar yang digunakan dalam aktivitas baru-baru ini oleh tim lokal telah menimbulkan kekhawatiran dan reaksi keras. Kami tidak pernah bermaksud untuk menimbulkan pelanggaran, dan kami meminta maaf kepada siapapun yang terkena dampaknya,” ujar pernyataan Adidas dikutip Aa.com.tr, Selasa (8/9).
Baca juga:
Adidas Rilis Koleksi SS26 Summer Glow, Terinspirasi Iklim Tropis dan Kekayaan Artistik Indonesia
Promosikan Koleksi Single Shoe Service
Kontroversi tersebut bermula dari kampanye Single Shoe Service, koleksi yang memungkinkan penyandang disabilitas atau orang yang mengalami amputasi membeli satu sisi sepatu dengan harga setengah dari harga sepasang.
Adidas kemudian menunjuk Shalev Biton sebagai salah satu wajah untuk mempromosikan produk tersebut. Ia merupakan salah satu dari 11 atlet penyandang disabilitas yang ditampilkan pada poster yang dipajang di toko-toko Adidas di Israel.
Biton merupakan mantan tentara Israel yang kehilangan salah satu kakinya setelah mengalami luka dalam konflik Israel-Gaza pada 2021. Saat itu, Israel melancarkan serangkaian serangan ke Gaza selama 11 hari.
Penggunaan sosok mantan tentara Israel dalam kampanye produk yang ditujukan bagi orang dengan amputasi kemudian memicu reaksi keras, terutama dari aktivis pro-Palestina dan kelompok hak asasi manusia.
Baca juga:
Sepatu Lari Adidas Bantu Sabastian Sawe Pecahkan Rekor Dunia di London Marathon 2026
Aktivis Kritik Kampanye Adidas
Koordinator kampanye boikot olahraga untuk Palestine Campaign for the Academic and Cultural Boycott of Israel (PACBI), Stephanie Westbrook, mengatakan reaksi tersebut seharusnya sudah dapat diperkirakan Adidas.
PACBI merupakan salah satu anggota pendiri gerakan Boycott, Divestment and Sanctions (BDS).
“Ini bukan karena Adidas tidak peka atau tidak sensitif; ini penghinaan mutlak terhadap warga Palestina yang telah kehilangan orang-orang terkasih mereka, yang dibunuh Israel, dan yang telah kehilangan anggota tubuh mereka (akibat serangan Israel),” kata Westbrook kepada Al Jazeera.
Menurut Westbrook, kampanye tersebut berisiko membuat kekerasan terhadap warga Palestina terlihat sebagai sesuatu yang normal.
“Di sini kita memiliki kampanye Adidas yang menampilkan seorang tentara Israel, yang seluruh identitasnya berpusat pada dirinya sebagai seorang tentara, yang kehilangan kakinya saat berpartisipasi dalam salah satu serangan Israel yang berulang kali ke Gaza, bertugas di angkatan bersenjata negara yang saat ini melakukan genosida, telah melakukan pendudukan militer ilegal atas wilayah Palestina, dan yang telah memberlakukan pemerintahan apartheid selama beberapa dekade atas warga Palestina,” ujarnya.
Ia menilai kampanye seperti ini dapat 'menormalisasi kejahatan Israel terhadap Palestina dan memungkinkannya untuk terus melakukan kejahatan tersebut tanpa hukuman'.
Permintaan maaf Adidas menjadi respons perusahaan setelah kampanye tersebut memicu perdebatan mengenai pemilihan figur dalam materi promosi Single Shoe Service.(Tka)
Baca juga:
Adidas Indonesia Luncurkan Seri Terbaru SS26 Island, Angkat Keindahan Papua