Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup

Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut

Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026

MerahPutih.com - Indonesia kini memiliki teknologi Left Ventricular Assist Device (LVAD), sebuah pompa jantung artificial yang dapat digunakan untuk membantu pasien dengan gagal jantung tingkat lanjut.

Teknologi transplantasi artificial tersebut menjadi salah satu pilihan penanganan bagi pasien yang mengalami gangguan fungsi jantung berat dan tidak memberikan respons yang baik terhadap penanganan sebelumnya.

LVAD bekerja dengan mengambil alih fungsi jantung bagian kiri, khususnya bilik kiri atau ventricle, dalam memompa darah ke seluruh tubuh.

Dokter Spesialis Jantung Leonardo Paskah Suciadi mengatakan LVAD dapat menjadi salah satu solusi medis bagi pasien gagal jantung lanjut yang fungsi jantungnya sudah sangat minimal.

"LVAD sebagai pompa jantung artificial yang dipasang secara bedah dan tujuannya untuk mengambil alih pompa jantung di sebelah kiri yaitu ventricle atau bilik kiri dan untuk mengalirkan darah menuju ke semua tubuh. Nah ini tindakan yang merupakan salah satu solusi bagi penderitaan gagal jantung lanjut untuk menopang fungsi jantung yang sudah sangat minimal dan sudah dilakukan berbagai cara baik dengan obat-obatan maupun dengan tindakan yang lain seperti alat-alat yang dipasang yang tidak berfungsi dan tidak respon dengan baik," katanya dalam konferensi pers 'A Heart Beat History' CGC Central Park, Selasa (29/9).

Baca juga:

Risiko Jantung Mengintai di Balik Maraknya Fenomena 'Mendadak Atlet'

LVAD Berbentuk Pompa yang Ditanam di Tubuh

Dokter Spesialis Bedah Kardiotoraks Dewasa Sugisman menjelaskan, LVAD memiliki bentuk seperti pompa jantung yang ditanam di dalam tubuh pasien.

Karena perangkat tersebut bekerja di dalam organ tubuh, LVAD terhubung dengan seperangkat alat yang posisinya ditopang di bagian perut pasien. Perangkat tersebut berfungsi untuk memonitor kinerja pompa jantung.

Pasien LVAD selalu membawa tas, yang di dalam tas itu terpasang monitoring berguna untuk memonitoring pompa jantung dia selama dan seterusnya. Jadi pasien LVAD tidak akan pernah lepas dari tas berisikan alat monitoring tersebut. Alat monitoring itu memiliki daya, ia punya baterai yang suatu waktu tertentu perlu di cas,

Dokter Spesialis Bedah Kardiotoraks Dewasa, Sugisman.

Sugisman mengatakan pasien yang menggunakan LVAD juga diberikan dua baterai cadangan untuk mendukung perangkat monitoring tersebut.

Masing-masing baterai dapat bertahan hingga 12 jam. Ketika daya baterai habis, baterai dapat kembali diisi ulang.

Tidak Semua Pasien Gagal Jantung Bisa Menggunakan LVAD

Dokter Paskah menjelaskan pemasangan LVAD dilakukan secara selektif. Pasien yang akan menjalani tindakan tersebut perlu dipastikan tidak mengalami penurunan fungsi organ lain.

Sebab, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko komplikasi fungsi dan membahayakan keselamatan pasien.

Karena itu, proses persiapan sebelum pemasangan LVAD dilakukan secara kompleks dengan pemeriksaan terhadap berbagai organ yang berkaitan dengan fungsi kerja tubuh.

Pemeriksaan Pasien Dilakukan Secara Menyeluruh

Sugisman menjelaskan sejumlah pemeriksaan dilakukan sebelum pasien dinyatakan layak menjalani pemasangan LVAD.

Pemeriksaan tersebut antara lain mencakup kondisi paru-paru, fungsi ginjal, fungsi hati, hingga pemeriksaan laboratorium secara umum.

Selain itu, dokter juga melakukan pemeriksaan penunjang seperti rontgen, CT thorax, dan USG abdomen.

"Misalnya paru-parunya dilakukan pemeriksaan, fungsi ginjal, kemudian fungsi hati. Tentu saja pemeriksaan laboratorium secara umum ya jadi nilai-nilai yang kita dapatkan dari pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan penunjang berubah Photoronsen, CT thorax ataupun USG abdomen. Itu kemudian kita kumpulkan, kita lakukan klasifikasi pada pasien apa bisa lakukan stratifikasi apakah pasien ini layak untuk dilakukan tindakan LVAD atau tidak, karena kategorisasi pasien sangat menentukan outcome tindakan yang akan kita lakukan," katanya.

Hasil dari berbagai pemeriksaan tersebut kemudian dikumpulkan dan digunakan untuk melakukan klasifikasi serta stratifikasi pasien.

Kategorisasi tersebut menjadi bagian penting untuk menentukan apakah pasien dapat menjalani tindakan LVAD.

Sinkronisasi Pompa Artificial dan Jantung Jadi Kunci

Setelah pemasangan LVAD dilakukan, pemantauan kondisi pasien tetap menjadi bagian penting dalam penanganan.

Dokter Paskah mengatakan salah satu hal yang membedakan pemasangan LVAD dengan jenis operasi bedah jantung lainnya adalah kebutuhan untuk memperhatikan sinkronisasi antara pompa artificial dan jantung asli pasien.

Karena itu, pasien membutuhkan pemantauan secara berkala setelah menjalani operasi.

Jantung native dengan jantung artificial pompanya harus clock, dan ini proses panjang setelah operasinya,

Dokter Spesialis Jantung, Leonardo Paskah Suciadi.

Sugisman menambahkan, setelah operasi, kontrol terhadap pasien LVAD antara lain mencakup pemeriksaan speed dan performa jantung.

Pasien juga mendapatkan konsultasi mengenai perawatan luka setelah operasi jantung. Selain itu, terdapat sejumlah kebiasaan pasien yang perlu disesuaikan setelah menjalani tindakan tersebut.

Baca juga:

Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun

LVAD Tersedia di RS Siloam Kebon Jeruk

Teknologi LVAD tersedia di Rumah Sakit Siloam Kebun Jeruk sebagai salah satu rumah sakit swasta yang menyediakan pilihan terapi jantung yang lebih luas.

Kehadiran teknologi tersebut menjadi salah satu pilihan penanganan bagi pasien dengan gagal jantung tingkat lanjut yang membutuhkan dukungan terhadap fungsi pompa jantung.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Kementerian Kesehatan RI, prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter mencapai 0,85 persen secara nasional, yang secara estimasi setara dengan sekitar 2,4 juta penduduk Indonesia.

Kementerian Kesehatan juga mencatat penyakit jantung sebagai penyebab kematian dan disabilitas kedua tertinggi di Indonesia setelah stroke. (Tka)

Baca Artikel Asli