Merahputih.com - Sutradara Tumpal Tampubolon menunjukkan taringnya lewst pilihan drama keluarga barunya yang bertajuk 'Crocodile Tears'. Film ini sedang tayang di bioskop seluruh Indonesia.
Film ini dibintangi Marissa Anita, Zulfa Maharani, Yusuf Mahardika. Dengan produser Mandy Marahimin sementara penulis naskahnya juga Tumpal.
Sinopsis film mengisahkan Mama (Marissa Anita), ibu tunggal Johan (Mahardika Yusuf), berusaha keras melindungi Johan dari dunia yang dia pikir akan menyakitinya. Berdua, mereka menjalani kehidupan yang tenang dan monoton.
Baca juga:
Mengenang 14 tahun Kepergian 'The Crocodile Hunter' Steve Irwin
Kehidupan berubah menjadi penuh intrik dan ketegangan, ketika Arumi (Zulfa Maharani) datang ke dalam hidup Johan. Saat Johan mengajak Arumi untuk tinggal bersama mereka, hubungan Johan dan Mama tidak pernah sama lagi.
Ketegangan demi ketegangan terjadi, sampai akhirnya Mama memutuskan ada yang harus dilakukan, segera.
Fakta seputar film Crocodile Tears:
1. Diambil dari filosofis buaya
Tumpal dalam kesempatan konpers menyebutkan dirinya membuat judul filmnya terinspirasi dari sebuah kata filosofis "Air Mata Buaya". Bukan cuma mengutip, dia memaknai bahsa kata air mata buaya kerap dikaitkan dengan sesuatu yang palsu.
Padahal kenyataan buaya memang mengeluarkan air mata saat memangsa makanannya. Air mata itu kata Tumpal, bagian biogis sang buaya yang selama ini dianulir dengan pernyataan kebohongan alias palsu.
2. Syuting di kebun buaya
Menciptakan atmosfer yang ikonik, Tumpal sengaja memilih lokasi syutingnya di Indonesia.
Lokasi syuting film berada di Taman Buaya Indonesia Jaya di daerah Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Di sin ada puluhan jenis buaya yang dipelihara.
3. Kolaborasi perdana Marissa Anita dan Tumpal
Marissa salah satu aktris papan ataa Indonesia. Film Crocodile Tears jadi proyek perdana kolabirasi antar keduanya.
Baca juga:
Netflix Hadirkan Drama Korea ‘Teach You a Lesson’, Angkat Cerita Kekacauan di Dunia Pendidikan
4. Mengusung genre yang unik
Film ini bergenre Thriller Psikologis dimana emosional, ketegangan mental, serta hubungan beracun (toxic relationship) yang sangat intens antara seorang ibu protektif dan anak laki-lakinya.
5. Debut di Festival Film luar negeri
Penayangan perdana dunia di Festival Film Internasional Toronto 2024. Penayangan perdana Asia di Festival Film Internasional Busan, seksi Jendela Sinema Asia.
Kompetisi film panjang pertama di Festival Film London BFI 2024. Film ini hasil produksi bersama empat negara (Indonesia-Prancis-Singapura-Jerman.(tka)