MerahPutih.com - Dokter Spesialis Jantung Rumah Sakit Siloam Kebun Jeruk, Leonardo Paskah Suciadi, menjelaskan sejumlah alasan di balik masih rendahnya pengobatan gagal jantung tingkat lanjut di Indonesia.
Menurut Dokter Paskah, setidaknya ada tiga aspek yang perlu menjadi perhatian, yakni rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai gagal jantung, terbatasnya tenaga medis subspesialis gagal jantung, serta keterbatasan pengadaan teknologi karena biaya yang tinggi.
Literasi Gagal Jantung Masih Terbatas
Dokter Paskah mengatakan, rendahnya kesadaran mengenai gagal jantung berkaitan dengan literasi kesehatan masyarakat tentang penyakit jantung yang masih terbatas.
Menurut dia, masyarakat Indonesia lebih banyak mengenal penyakit jantung yang populer, seperti jantung koroner dan pemasangan cincin jantung.
Baca juga:
Risiko Jantung Mengintai di Balik Maraknya Fenomena 'Mendadak Atlet'
Di sisi lain, tenaga medis di lapangan dinilai masih lambat memberikan diagnosis gejala gagal jantung secara baik kepada masyarakat.
“Awareness tentang gagal jantung seringkali ditutupi, juga waktu di klinik dokternya mungkin agak enggan mengatakan Gagal Jantung, ‘agak bengkak dikit bu jantungnya’, jadi pasien menangkapnya, oh bengkak dikit, nanti sembuh yaudahlah hilang,” katanya menjelaskan, Selasa (29/9).
Dokter Paskah menyayangkan praktik seperti itu. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat mengurangi harapan hidup pasien gagal jantung untuk mendapatkan penanganan secepatnya.
Heart failure karena gagal jantung ini penyakit yang kronik dan progresif. Kondisinya sama seperti cancer, kalau cancer stadium pertama tidak ada gejala tapi kalau kita diamkan, kita tidak putuskan di awal, dia akan berkembang tahun depan, stadium 2, 3 dan 4. Itu gagal jantung terminal. Jadi Gagal Jantung di Indonesia gak populer di masyarakat Indonesia,
Dokter Spesialis Jantung Rumah Sakit Siloam Kebun Jeruk, Leonardo Paskah Suciadi.
Dokter Subspesialis Gagal Jantung Masih Terbatas
Aspek kedua yang disoroti adalah terbatasnya dokter subspesialis gagal jantung di Indonesia.
Dokter Paskah mengatakan terdapat ketimpangan komposisi tenaga medis dengan masyarakat yang memiliki risiko penyakit berbahaya tersebut.
Menurut pengakuannya, saat ini dokter dengan subspesialis gagal jantung di Indonesia hanya berjumlah enam orang, termasuk dirinya.
“Di rekan sejawat bagian Jantung dan pembuluh darah, rata-rata Dokter Jantung belajarnya untuk hal-hal yang lain sehingga sampai sekarang ini kita juga belum memiliki pendidikan lanjutan untuk sub spesialis di Gagal Jantung di Indonesia. Hanya 6 orang saat ini yang sudah menamatkan pendidikan di luar semua untuk sub spesialis Gagal Jantung, salah satunya saya. Dan di sini kita kekurangan tenaga medis yang fokus dedikasi di bidang Gagal Jantung Lanjut,” katanya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan dalam penanganan pasien dengan gagal jantung tingkat lanjut di Indonesia.
Teknologi Penanganan Gagal Jantung Terkendala Biaya
Aspek ketiga berkaitan dengan mahalnya teknologi yang digunakan dalam penanganan gagal jantung lanjut, termasuk alat untuk transplantasi jantung.
Dokter Paskah mengatakan teknologi tersebut tidak dapat diperoleh dengan biaya yang terjangkau.
Ia juga membandingkan kondisi Indonesia dengan Singapura. Menurutnya, teknologi transplantasi jantung dengan teknologi LVAD yang sudah terpasang di Singapura telah digunakan pada hampir 200 pasien, sementara jumlah penduduk negara tersebut sekitar 5,5 juta jiwa.
“Semua orang di dunia bingung kenapa negara sebesar kita, tidak pernah ada transplant jantung sama sekali,” katanya.
Baca juga:
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Dokter Paskah menegaskan bahwa alat tersebut bukan satu-satunya terapi untuk gagal jantung. Untuk gagal jantung lanjut, terapi utama tetap mencakup obat-obatan dan comprehensive care.
“Alat ini bukan satu-satunya terapi Gagal Jantung. Tapi untuk Gagal Jantung Lanjut. Terapi utama Gagal Jantung tentunya da obat-obatan, comprehesive care. Salah satu halangannya karena alat ini sangat mahal.
Dan ini akan menghabiskan uang negara dan membuat kolaps kalau memang harus ditanggung negara seperti kebanyakan tepat di luar,” katanya.
Gagal Jantung Jadi Perhatian di Indonesia
Sebagai informasi, penyakit gagal jantung masuk dalam daftar silent killer bagi masyarakat Indonesia.
Menurut catatan data Global Burden of Disease (GBD), Indonesia menjadi negara dengan prevalensi gagal jantung tertinggi kedua di Asia setelah China.
Di Indonesia, usia pengidap gagal jantung juga disebut 10-15 tahun lebih muda dibandingkan di kebanyakan negara yang ada di dunia.
Kondisi tersebut membuat kasus gagal jantung lanjut banyak ditemui pada pasien berusia 40-55 tahun. (Tka)