BELAKANGAN ini ada sebuah challenge alias tantangan yang sedang ramai di media sosial. Seorang warganet harus membuat perbandingan foto dirinya di masa sekarang dan 10 tahun sebelumnya. Setelah itu, foto kemudian diunggah di media sosial masing-masing dengan tagar #10yearschallenge.
Tantangan yang dinamakan 10 Years challenge memang terlihat hanya seru-seruan. Tapi seorang praktisi teknologi dari Amerika Serikat, Kate O'Neill punya pendapat berbeda. Menurutnya tantangan tersebut bertujuan untuk melatih mesin algoritme yang berhubungan dengan teknologi pengenal wajah.
"Saya tidak bermaksud mengklaim ini berbahaya. Saya tahu, skenario tentang pengenal wajah ini masuk akal, indikasi bahwa tren ini harus diperhatikan. Perlu diperhatikan kedalaman dan keluasan data pribadi yang kita bagikan tanpa syarat," tulis O'Neill di laman Wired, beberapa waktu lalu.
1. Memudahkan mesin algoritme
O'Neill melanjutkan, untuk melatih algoritme mengenai facial recognition atau pengenal wajah, dibutuhkan banyak data mengenai karekteristik wajah seiring dengan pertambahan usia. Dengan tantangan tersebut maka algoritme mesin akan mudah membaca wajah seseorang.
Agar lebih mudah, foto diberi label sehingga mesin bisa membaca perubahan yang terjadi selama 10 tahun. Data yang terkumpul akhirnya lebih spesifik dan benar-benar berjumlah 10 tahun. Algoritme pengenal wajah pun sudah terlatih dengan canggih, memanfaatkan tanda pagar yang digunakan dalam tantangan ini.
2. Sengaja dibuat challenge
Sebenarnya, mesin bisa saja membaca foto profil yang diunggah di Facebook atau media sosial lainnya. Namun cara tersebut diangap kurang efektif. Hal itu karena pengguna bisa saja tidak menggunakan wajah mereka di foto profil atau memasang foto yang bukan berasal dari tahun tersebut.
Agar proses pengumpulan sampel lebih mudah, maka sengaja dibuatkan tantangan. Dengan adanya tantangan, orang cenderung mengikuti peraturan dengan benar-benar memberikan foto berjarak sepuluh tahun.
3. Apakah berbahaya?
Menurut O'Neill, warganet tak perlu khawatir dengan pengumpulan sampel ini. Bahkan ia yakin kalau nantinya teknologi pengenalan wajah akan sangat membantu. Contohnya dapat digunakan untuk mencari anak yang hilang. Jika anak tersebut hilang selama beberapa waktu, kemungkinan ada yang berubah dari wajahnya.
Selain itu, teknologi ini dinilai O'Neill berkaitan dengan iklan. Diperkirakan kedepannya akan muncul iklan jenis baru yang melibatkan kamera serta sensor. Kemudian iklan tersebut akan terkirim sesuai dengan demografi kelompok usia.