
Tuan Rondahaim Saragih Garingging dengan gelar Raja Raya Namabajan adalah Raja ke-14 Kerajaan Raya atau Partuanan Raya di Simalungun, Sumatera Utara.
Ia lahir pada tahun 1828 di Juma Simandei, Sinondang, Pematang Raya, ibu kota Partuanan Raya dari pasangan Tuan Jinmahadim Saragih Garingging (penguasa Partuanan Raya) dan Puang Ramonta boru Purba Dasuha (putri dari Guru Raya).
Oleh karena Puang Ramonta hanyalah selir dari Tuan Jimmahadim, kehidupan Rondahaim dan ibunya serba kekurangan. Pada masa kecilnya, Rondahaim diperkenalkan oleh keempat pamannya kepada Raja Padang Tengku Muhammad Nurdin. Ia belajar bahasa Melayu dan ilmu pemerintahan selama tinggal di Kerajaan Padang.
Julukan "Napoleon der Bataks":
Pemerintah Kolonial Belanda menjuluki Tuan Rondahaim sebagai "Napoleon der Bataks" atau Napoleon-nya orang-orang Batak karena perlawanannya yang gigih hingga akhir hayat terhadap upaya penaklukan Raya oleh Belanda. Julukan ini mencerminkan ketangguhannya dalam mempertahankan wilayah Partuanan Raya.
Baca juga:
Sultan Bima XIV Dikabarkan Bakal Dinobatkan Jadi Pahlawan Nasional
Awal keterlibatan Tuan Rondahaim dalam perang melawan kolonialisme Belanda dimulai ketika mengetahui pemerintah Belanda membuka perkebunan secara sepihak di wilayah yang dihuni orang Simalungun. Berbagai tindak kejahatan seperti pemerkosaan, perampokan, dan penyiksaan menimpa orang Simalungun.
Sepanjang tahun 1874 hingga 1878, Tuan Rondahaim sudah mulai mendengar kabar ini dan menyadari bahwa pasukan Belanda memiliki kekuatan dan persenjataan modern.
Strategi Perang:
Untuk menghadapi Belanda, Tuan Rondahaim terlebih dahulu menyiapkan pasukannya dengan pelatihan-pelatihan militer.
Ia mendatangkan guru-guru perang dari Tanah Gayo, Alas, dan Aceh ke Raya untuk mendidik pasukannya. Beberapa tokoh pejuang rakyat lain seperti Tengku Muhammad dari Aceh dan Si Singamangaraja XII dari Bakkara didatangkan ke Dalig Raya untuk membahas strategi perang semesta menghadapi Belanda.
Ia juga membangun komunikasi dengan Kesultanan Lima Laras (Batubara) untuk meningkatkan kerja sama di bidang pertahanan.
Baca juga:
Ini Kata Jokowi Soal Rencana Pemberian Gelar Pahlawan Nasional ke Soeharto
Tuan Rondahaim yang bergelar Tuan Namabajan pernah mengadang pasukan Belanda masuk ke Raya Kahean dengan menebang pohon besar hingga melintang di Gunung Simarsopah.
Tempat itu hingga kini dikenal dengan nama Pangolatan atau tempat mengadang Belanda. Gigihnya perjuangan Rondahaim membuat Belanda tidak pernah bisa masuk ke Kerajaan Raya meski sejumlah kerajaan lain di Simalungun sudah berhasil ditaklukan.
Partuanan Raya tercatat tidak pernah takluk kepada Belanda pada masa pemerintahan Tuan Rondahaim Saragih Garingging.
Barulah pada tahun 1901, sepuluh tahun setelah wafatnya Tuan Rondahaim pada Juli 1891, Partuanan Raya yang dipimpin oleh putranya Sumayan gelar Tuan Kapoltakan Saragih Garingging takluk kepada pemerintah kolonial Belanda.
Atas jasa-jasanya, Presiden BJ Habibie telah menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Jasa kepada Tuan Rondahaim Saragih Garingging berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 077/TK/TAHUN 1999, tanggal 13 Agustus 1999.