10. Zainal Abidin Syah - Gubernur Papua Pertama

pahlawan-nasional-2025-profil-lengkap

Sultan Zainal Abidin Syah Sangaji lahir di Soa-Sio, Tidore pada 5 Agustus 1912 dari pasangan Dano Husain Alting dan Boki Salma Alting. Ia adalah Sultan Tidore periode 1947-1967 yang mempunyai peranan penting dalam sejarah perebutan kembali Papua Barat dari tangan Belanda.

Sikap Patriotik:

Ketika panasnya hubungan antara Indonesia dengan Belanda mengenai Irian Barat pada tahun 1950-an, Sultan Zainal Abidin Syah menunjukkan sikap patriotik yang luar biasa.

Pada bulan Februari 1949, Pemerintah Belanda mengundang Sultan Tidore untuk berkunjung ke Irian Barat (Manokwari).

Baca juga:

Tolak Pemberian Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto, GMNI: Pengkhianatan terhadap Sejarah dan Kemanusiaan

Walau berdiri sendirian menghadapi tekanan Belanda, Sultan Zainal Abidin Syah tidak berkompromi dan tetap pada pendiriannya menolak kebijakan Belanda terkait Irian Barat.

Keteguhan sikapnya mencerminkan dedikasi terhadap tanah air di tengah polemik antara Indonesia dan Belanda.

Gubernur Irian Barat Pertama:

Sikap patriotik Sultan Zainal Abidin Syah menggugah perhatian Presiden Ir. Soekarno. Melihat keteguhan Sultan Tidore mempertahankan Irian Barat, Presiden Soekarno datang ke Tidore untuk mengajak Sultan bersama-sama memperjuangkan pembebasan Irian Barat.

Pada 17 Agustus 1956, Presiden Soekarno mengumumkan pembentukan Provinsi Perjuangan Irian Barat dengan ibu kota sementara di Soa-Sio, Tidore sebagai langkah politik melemahkan posisi Belanda.

Alasan pemilihan Tidore adalah karena sejak ratusan tahun lalu, Papua serta pulau-pulau sekitarnya merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore.

Sultan Zainal Abidin Syah kemudian ditetapkan sebagai Gubernur sementara Provinsi Perjuangan Irian Barat pada 23 September 1956 melalui SK Presiden RI No. 142/Tahun 1956. Sebagai gubernur, Sultan Zainal Abidin Syah diperbantukan pada Operasi Mandala di Makassar (TRIKORA) Perjuangan Pembebasan Irian Barat.

Setelah perjuangan yang panjang, pada 4 Mei 1962, Sultan Zainal Abidin Syah ditetapkan sebagai Gubernur Tetap Provinsi Irian Barat melalui SK Presiden RI No. 220/Tahun 1961. Dengan demikian, ia menjadi Gubernur Irian Barat pertama (1956–1961) dengan ibu kota di Soa-Sio, Pulau Tidore. Ia memegang jabatan gubernur hingga tahun 1961.

Bagi masyarakat Papua, Sultan Zainal Abidin dikenal sebagai tokoh yang memiliki patriotisme dan nasionalisme tinggi. Pada 1 Juni 1963, Sultan menjalani masa bebas tugas setelah Irian Barat resmi menjadi bagian dari NKRI pada 1 Mei 1963.

Ia kemudian menetap di Ambon hingga wafat pada 4 Juli 1967 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha Ambon. Pada 11 Maret 1986, pihak keluarga kesultanan Tidore memindahkan kerangka Sultan Zainal Abidin ke Soa Sio Tidore dan disemayamkan di Sonyine Salaka (Pelataran Emas) Kedaton Kie Soa-Sio Kesultanan Tidore.