
Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo lahir di Pangenjuru, Purworejo, Jawa Tengah pada 25 Juli 1927 dari pasangan Raden Kartowilogo dan Raden Ayu Sutini yang berasal dari keluarga PNS yang bekerja untuk Pemerintah Kolonial Belanda.
Nama aslinya adalah Edhie, namun karena sering sakit-sakitan sesuai adat Jawa, nama Edhie ditambah dengan Sarwo dan setelah menikah menjadi Sarwo Edhie Wibowo sesuai pesan ayahnya dengan harapan kelak ia memiliki kewibawaan.
Sarwo Edhie adalah ayah dari Kristiani Herrawati (Ani Yudhoyono), istri Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, dan juga ayah dari Pramono Edhie Wibowo, mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Baca juga:
AJI dan ELSAM Tolak Pemberian Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto: Diktator dan Pelanggar HAM!
Peran dalam Penumpasan G30S/PKI:
Sarwo Edhie memiliki peran sangat besar dalam penumpasan Gerakan 30 September 1965 dalam posisinya sebagai Panglima Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang kini dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
RPKAD merupakan usaha Indonesia menciptakan unit pasukan khusus dan pengangkatan Sarwo Edhie sebagai komandannya berkat kepercayaan Jenderal Ahmad Yani.
Pada pagi hari 1 Oktober 1965, enam jenderal termasuk Ahmad Yani diculik dari rumah mereka dan dibawa ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.
Sementara itu, Sarwo Edhie dan pasukan RPKAD sedang berada di markas RPKAD di Cijantung, Jakarta. Kolonel Herman Sarens Sudiro tiba membawa informasi dari Kostrad dan memberitahu bahwa Mayor Jenderal Soeharto diasumsikan akan menjadi pimpinan Angkatan Darat.
Setelah memberikan pemikiran, Sarwo Edhie mengirim Sudiro kembali dengan pesan bahwa ia akan berpihak dengan Soeharto.
Memulai serangan pada pukul 02.00 dini hari tanggal 2 Oktober, Sarwo Edhie dan RPKAD berhasil mengambil alih Pangkalan Udara Halim pada pukul 06.00 pagi.
Hanya dalam waktu kurang dari satu bulan, pasukan RPKAD di bawah komando Sarwo Edhie berhasil memukul mundur pasukan Gerakan 30 September dan merebut kembali Radio Republik Indonesia (RRI) yang dikuasai PKI.
Warisan Kepemimpinan:
Sarwo Edhie dikenal sebagai sosok prajurit tangguh, komandan berani, dan arsitek Kopassus modern. Fondasi yang ia bangun di pasukan elite tersebut mencakup aspek krusial seperti disiplin baja, kemampuan bertempur dalam segala medan, dan kesetiaan mutlak pada negara.
Di bawah kepemimpinannya, RPKAD diasah menjadi unit gerak cepat yang mampu menyelesaikan misi-misi sulit dalam waktu singkat. Warisan ini terlihat dalam reputasi Kopassus saat ini sebagai salah satu pasukan khusus terbaik di dunia.
Selain karier militernya, Sarwo Edhie pernah menjabat sebagai Ketua BP-7 Pusat, Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan, dan Gubernur AKABRI. Ia wafat pada 9 November 1989.
Baca juga: