
Sultan Muhammad Salahuddin adalah Sultan Bima XIV yang memerintah Kesultanan Bima dari tahun 1915 hingga 1951.
Ia lahir di Bima pada 15 Zulhijah 1306 H (14 Juli 1889) dan dikenal dengan gelar Ruma Ma Kidi Agama (yang menegakkan agama) karena perannya sebagai sultan sekaligus pemuka agama.
Visi Pendidikan:
Sultan Salahuddin dikenal sebagai pemimpin visioner yang menembus batas zaman dengan menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama.
Di tengah tekanan kolonial Belanda, ia membuka akses pendidikan luas bagi rakyat dengan mendirikan berbagai sekolah.
Sultan Muhammad Salahuddin mendirikan Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Raba pada 1921, Sekolah Kejuruan Wanita pada 1922, serta Sekolah Agama dan Umum di setiap Kejenelian pada tahun yang sama.
Hingga akhir masa pemerintahannya, Sultan Muhammad Salahuddin telah membangun 60 sekolah termasuk membentuk Yayasan Islam Bima.
Sekolah-sekolah yang ia dirikan tersebar di setiap kejenelian (setingkat kecamatan) dan desa, yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Rakyat dan Sekolah Dasar hingga saat ini. Ia juga mendirikan Sekolah Agama seperti Darul Ulum.
Perjuangan Kemerdekaan:
Berbeda dengan banyak kerajaan lain yang memilih bertahan di bawah bayang-bayang Belanda, Sultan Muhammad Salahuddin memimpin Bima membebaskan diri dari cengkeraman kolonial selama 103 hari sebuah peristiwa langka di wilayah timur Indonesia.
Baca juga:
Puncak perjuangannya tercatat dalam Maklumat 22 November 1945, ketika Sultan menyatakan kesetiaan penuh Kesultanan Bima kepada Republik Indonesia yang baru berdiri.
Langkah politik terbesar ini diambil di masa penuh ketidakpastian, ketika sebagian wilayah Nusantara masih ragu antara tunduk pada kolonialisme atau bergabung dengan republik muda. Sultan memilih Indonesia dengan kesadaran moral bahwa kemerdekaan adalah hak rakyat, bukan anugerah kekuasaan.
Pada 1946 saat Konferensi Malino, Sultan Muhammad Salahuddin memperjuangkan agar Indonesia tidak terpecah belah.
Sultan Muhammad Salahuddin wafat pada 1951. Bandar Udara di Bima dinamakan Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya.