Aturan penggunaan penulisan nama dengan inisial tersebut masih berlaku. Bahkan, kini enggak cuma pelaku kriminal, tersangka, atau korban perkosaan yang ditulis dalam inisial. Politisi juga ramai-ramai menggunakan inisial mereka.
Entah siapa yang memulai. Belakangan, publik lebih banyak mengenal SBY untuk Susilo Bambang Yudhoyono, RK untuk Ridwan Kamil, OSO untuk Oesman Sapta Odang, atau yang baru-baru ini ikut pilkada DKI, AHY untuk Agus Harimurti Yudhoyono.
Penggunaan inisial untuk menggantikan nama resmi amat mungkin terkait dengan kemudahan. Nama yang panjang akan sedikit lebih sulit untuk dikenal. Dengan inisial yang lebih singkat, nama jadi dengan mudah dihafal dan diingat.
Hal itulah yang dilakukan SBY dan AHY yang sama-sama menggunakan inisial mereka saat ikut dalam pemilihan. Terbukti berhasil memang. Makin banyak orang mengenal mereka dengan inisial ketimbang nama yang panjang.
Dalam hal penggunaan nama resmi atau inisial, media punya aturan tersendiri. Sebagai contoh penulisan nama Susilo Bambang Yudhoyono. Mantan Presiden Republik Indonesia itu juga dikenal dengan sebutan SBY. Bagi orang awam, menyebut SBY atau Susilo Bambang Yudhoyono tak ada bedanya karena akan tetap mengacu pada orang yang sama. Namun, hal itu tidak sepenuhnya benar.
Nama Susilo Bambang Yudhoyono merupakan nama resmi beliau. Ketika menjabat presiden, nama itu disematkan pada semua dokumen negara dan surat keputusan. Oleh karena itu, nama itu sebenarnya mengacu pada posisi atau kapasitasnya sebagai Presiden RI. Selanjutnya, dalam kesempatan resmi kenegaraan, ia akan dikenal sebagai Presiden Yudhoyono.
Makna berbeda muncul ketika namanya ditulis sebagai SBY. Sebutan inisial itu mengacu pada kapasitas beliau sebagai negarawan. Dalam hal ini, SBY merupakan nama Yudhoyono sebagai seorang politikus. Oleh karena itu, nama SBY sering kali digunakan dalam kapasitasnya sebagai ketua partai.