Kembali ke pilihan menggunakan nama Ahok atau insial BTP. Jika alasan tak lagi mau dikenal sebagai Ahok demi mudah dikenal, bukankah nama Ahok sudah cukup singkat, mudah diingat, dan gampang diucapkan?
Dalam sebuah artikel di Tempo.co (30/10/2014) disebutkan bahwa Ahok merupakan panggilan yang disematkan ayahnya. Mendiang Indra Tjahja Purnama ingin Basuki menjadi seseorang yang sukses. Oleh karena itu, ia memberikan panggilan khusus, yakni Banhok.
Kata 'Ban' berarti puluhan ribu, sedangkan 'Hok' memiliki arti belajar. Bila digabungkan, keduanya bermakna 'belajar di segala bidang'. Setelah sekian lama, panggilan Banhok berubah menjadi Ahok. Dengan nama itulah ia kemudian dikenal publik.
Mungkin saja, seperti halnya politisi yang menggunakan inisial demi dikenal publik, Ahok juga menginginkan hal yang sama. Alih-alih dikenal dengan nama kecil, ia ingin dikenal dengan lengkap, Basuki Tjahaja Purnama. Karena sedikit panjang, jadilah inisial BTP dipilih.
Lalu apa maknanya?
Jika nama Ahok merupakan nama kecil pemberian orangtua, nama BTP akan menjadi nama Basuki di dunia politik. Nama itu akan melekat dalam kapasitasnya sebagai seorang negarawan. Jika, sekali lagi jika, ia terpilih untuk memangku jabatan, tentu saja nama yang melekat ialah Basuki Tjahaja Purnama. Nama resminya.
Bisa jadi, pemilihan nama BTP setelah keluar tahanan menyiratkan bahwa Ahok sudah cukup banyak belajar. Baik dari buku maupun dari pengalaman hidup.
Ahok kini sudah siap menjadi politikus. Bersedia untuk terjun kembali ke dunia politik.
Jika benar demikian, sudah pasti banyak orang yang siap mendukungnya. Hanya saja, kali ini bukan lagi Ahoker, melainkan pendukung BTP.
Selamat datang kembali Ahok, eh BTP.(dwi)