Merahputih.com - Angin malam Riyadh, Arab Saudi, membawa aroma persaingan sengit kala AC Milan bersua Juventus pada Semi-Final Piala Super Italia, 3 Januari 2025.
Di antara kerumunan penonton, sosok tegap Zlatan Ibrahimovic mencuri perhatian publik dalam balutan peran barunya sebagai Penasihat Senior Rossoneri.
Mantan striker haus gol tersebut membawa aura kepemimpinan sekaligus kerendahan hati saat berbicara mengenai akar kecintaannya pada klub raksasa Italia ini.
Baca juga:
Massimiliano Allegri Buka Suara soal Rumor ke Real Madrid, Tegaskan Bahagia di AC Milan
"Van Basten adalah pemain Milan paling saya idolakan sejak kecil," ungkap Ibrahimovic kepada CBS Sports.
Beban Berat Sang Penerus di Ajax
Langkah awal karier Ibrahimovic di Ajax Amsterdam rupanya menyimpan cerita tekanan mental luar biasa. Publik Belanda kala itu gemar membandingkan talenta muda Swedia tersebut dengan sosok Marco van Basten.
Maklum, keduanya memiliki kemiripan posisi serta gaya permainan elegan di atas lapangan hijau. Namun, perbandingan tersebut justru sempat menjadi batu sandungan bagi perkembangan mental sang pemain.
“Tekanan itu terlalu tinggi untuk saya saat itu. Van Basten adalah ikon dan legenda, dan saya belum siap untuk menangani beban tersebut,” tegas Ibrahimovic jujur mengenang masa lalunya.
Warisan Abadi Trio Belanda San Siro
Sejarah emas Rossoneri memang tidak lepas dari dominasi trio legendaris asal Belanda: Marco van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard. Ketiganya berhasil melambungkan nama AC Milan ke puncak piramida sepak bola dunia.
Bagi Ibrahimovic, menyandang status serupa dengan Van Basten merupakan sebuah kehormatan besar sekaligus pengingat akan standar tinggi dalam dunia sepak bola profesional.
Baca juga:
“Apa yang dilakukan tetap tercatat dalam sejarah, bukan hanya untuk Milan, tetapi juga untuk sepak bola global,” tambah Ibrahimovic mengakhiri pembicaraan.
Meski karier Van Basten terhenti lebih cepat akibat cedera, pengaruh besarnya tetap abadi menginspirasi generasi pemain Milan hingga detik ini. Kehadiran Ibrahimovic di Riyadh seolah menjadi jembatan penghubung antara kejayaan masa lalu dengan ambisi besar klub pada masa depan.