JIKA selama ini perfilman Indonesia diwarnai film berbahasa Indonesia dengan sedikit campuran bahasa asing atau film Indonesia berlatar luar negeri, kini hadir film yang membawa budaya daerah, khususnya Jawa. Bentuk budaya itu hadir dalam bahsa yang digunakan sepanjang film, yakni bahasa.
Film Yowis Ben garapan Fajar Nugros dan co-director pembuat konten Youtube Bayu Eko Moektito atau yang terkenal dengan nama bayu Skak ini menghadirkan kisah cinta anak SMA dengan latar Kota Malang lengkap dengan dialog khas berbahasa Jawa.
Yowis Ben terinspirasi dari film Uang Panai yang rilis di Makassar yang sepenuhnya menggunakan bahasa daerah setempat. Dari situlah Bayu Skak mengambil ide untuk menggunakan bahasa Jawa dalam dialog film ini.
Film Yowis Ben mengambil latar Kota Malang dengan landmark yang ditampilkan, yaitu Museum Angkut, Alun-Alun Kota Malang, Gereja Hati Kudus, dan Kampung Warna-Warni.
Meski banyak yang meragukan filmnya, Bayu Skak punya alasan tersendiri memilih mengangkat bahasa Jawa dalam filmnya.
"Memang saya membuat karya film yang 80% lebih berbahasa Jawa ini bertujuan untuk mengingat budaya itu," ujarnya dalam sebuah unggahan di akun Instagram-nya.
Ia juga mengingatkan bahwa meskipun hampir sepanjang film menampilkan dialog bahasa Jawa, penonton tetap bisa mengikuti jalan cerita karena film itu akan dilengkapi subtitle bahasa Indonesia.
"Buat yang tidak paham bahasa Jawa, akan ada subtitle yang kami kerjakan dengan maksimal agar film bisa dinikmati seluruh masyarakat Republik ini," imbuhnya.
Film Yowis Ben mengisahkan Bayu (Bayu Skak) yang menyukai Susan (Cut Meyriska). Namun, ia tidak percaya diri karena merasa serbapas-pasan.
Demi mendapat perhatian Susan dan bersaing dengan pacar Susan (Indra Wijaya), Bayu membentuk band musik bersama tiga temannya (Joshua Suherman, Tutus Thomson, dan Brandon Salim).
Selain pemain-pemain muda tersebut, Yowis Ben juga menghadirkan ikon ludruk Kartolo. Film Yowis Ben akan tayang di bioskop Tanah Air mulai 22 Februari.(dwi)

