MerahPutih.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan 17 wilayah provinsi di Indonesia berpotensi mengalami hujan lebat. Sejumlah provinsi juga berpotensi mengalami banjir.
BMKG melaporkan, Madden Jullian Oscillation (MJO) berada pada kuadran 2 (Indian Ocean) yang menunjukkan MJO kurang berkontribusi terhadap proses pembentukan awan hujan di wilayah Tanah Air.
Baca Juga
Tetapi, dari model filter spasial MJO menunjukkan adanya gangguan fenomena MJO di wilayah Samudera Hindia Barat Lampung, Lampung, Laut Jawa, Samudera Pasifik Timur Filipina yang mampu meningkatkan aktivitas konvektif di wilayah itu.
Selanjutnya, Suhu Muka Laut/Sea Surface Temperature (SST) tercatat dengan anomali +1 0C – +4 0C yang mampu meningkatkan potensi penguapan (penambahan massa uap air). Antara lain, di Laut Andaman, Samudera Hindia barat Bengkulu-Lampung.
Selanjutnya, di Selat Sunda, Laut Jawa, Selat Madura, Samudera Hindia selatan Jawa - NTT, Laut Bali, Laut Flores, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Teluk Bone, dan Laut Maluku.
Berikutnya, Laut Seram, Laut Banda, Laut Timor, Laut Arafuru, Laut Halmahera, Teluk Cendrawasih dan Samudera Pasifik utara Papua.
Kemudian, tercatat indeks seruakan dingin (Cold Surge) yakni +2,9 yang mengindikasikan aliran massa udara dingin dari Benua Asia menuju wilayah Indonesia tak signifikan.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa seruakan dingin yang menjadi indikator peningkatan dampak monsun dingin Asia di Indonesia tidak signifikan memberikan dampak terhadap kondisi cuaca di wilayah di Indonesia,” demikian keterangan BMKG dalam situs resminya, Jumat (3/9).
Sehingga, potensi hujan ekstrim berdasarkan peta prakiraan hujan probabilistik dan ensemble pada 3 September 2021 dengan probabilistik >60% untuk potensi hujan lebat > 50mm terdapat di wilayah wilayah Sulawesi Selatan, Papua Barat, dan Papua.
Jadi secara keseluruhan, BMKG mencatat ada 17 provinsi yang berpotensi hujan lebat (>50 mm/hari). Yaitu, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
Berikutnya, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua.
Kemudian, lima provinsi berpotensi angin kencang (>45 km/jam) Aceh, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Barat.
Sedangkan, beberapa provinsi juga berpotensi banjir. Yakni Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku dan Papua Barat.
Adapun hujan disertai kilat/petir yakni akan berpotensi terjadi di Bengkulu Jambi, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.
BMKG juga melaporkan, satu provinsi justru berpotensi terjadi kebakaran hutan akibat kekeringan yaitu di Nusa Tenggara Timur (NTT).
BMKG sebelumnya memberikan peringatan bahwa bencana hidrometeorologi akan datang lebih awal di tahun 2021.
“Hal ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama pada wilayah-wilayah yang rawan banjir, tanah longsor, dan tanah bergerak seiring dengan intensitas curah hujan yang terus meningkat,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.
BMKG mengimbau kepada pemerintah dan masyarakat untuk selalu dan siaga untuk menghadapi bencana hidrometeorologi yang akan datang. (Knu)
Baca Juga