APAKAH Anda termasuk penyuka es krim rasa vanilla atau sajian bercitarasa vanilla? Jika iya, bersiaplah untuk merogoh kocek lebih dalam untuk rasa favorit Anda.
Pasalnya, harga vanili dilaporkan tengah meroket. The Economist melaporkan bahwa produsen terbesar vanili di dunia, Madagaskar, gagal mencapai target panen yang diharapkan. Akibatnya, kini harga vanili mencapai US$ 600 per kilogram atau sekitar Rp 8,2 juta. Harga tersebut US$ 60 lebih mahal ketimbang perak. Bahkan, harga tersebut mencapai 10 kali harga vanili beberapa tahun lalu.
Vanili merupakan salah satu tanaman pangan yang susah untuk dikembangkan. Untuk membudidayakannya, dibutuhkan campur tangan pekerja untuk melakukan polinasi bunga vanili dengan menggunakan alat berukuran kecil.
Hampir 80% vanili dihasilkan dari Madagaskar. Meskipun demikian, tumbuhan yang berasal dari anggrek tersebut sebenarnya berasal dari Meksiko. Secara alami, butuh 5 tahun bagi tanaman vanili untuk menghasilkan biji. Itulah mengapa vanilla yang murni berasal dari tanaman vanili menjadi rasa yang amat bernilai tinggi.
Kenaikan harga vanili di pasar dunia telah memaksa sejumlah produsen makanan seperti Nestle menaikkan harga produk bercitarasa vanilla mereka sebesar 2,5%. Demikian dilaporkan Daily Mail.
Selain itu, desakan konsumen agar produsen benar-benar menggunakan biji vanili alami dalam membuat rasa vanilla membuat produsen mengambil langkah alternatif. Beberapa produsen memilih menggunakan sisa biji vanili yang dikumpulkan ditambah perisa buatan untuk produk rasa vanilla mereka. Hal itu dilakukan demi menghemat biaya produksi.
Meskipun demikian, kekhawatiran meroketnya harga vanili masih menunggu hasil akhir panen vanili di Madagaskar. Pasalnya, petani vanili di sana baru akan memulai panen mereka pada Juni nanti. Namun, sebelum panen usai, tak ada salahnya Anda penyuka rasa vanilla menyimpan beberapa botol ekstrak vanili sebagai cadangan.(dwi)