MerahPutih.com - Pelatih Timnas Futsal Iran, Vahid Shamsaee menanggapi perang urat saraf (psywar) yang dilontarkan pelatih Indonesia Hector Souto terkait laga di final. Iran akan berhadapan dengan Indonesia di partai perebutan juara, yang dijadwalkan digelar di Indonesia Arena, Jakarta, Sabtu (7/2).
Iran melaju ke final setelah mengalahkan Irak 4-2. Bagi Iran, final AFC Futsal Asian Cup atau Piala Asia Futsal 2026 menjadi yang ke-16.
Dari 16 kali kesempatan di partai puncak, Iran memenangi 13 laga untuk merengkuh gelar juara. Iran menjadi tim tersukses di Piala Asia, dibuntuti Jepang yang telah 4 kali mendapat piala.
Adapun Indonesia melenggang ke final setelah menang dramatis 5-3 atas Jepang di semifinal. Ini menjadi final pertama bagi Indonesia.
Dalam 11 kali penampilan sebelumnya, pencapaian terbaik Timnas Futsal Indonesia yakni perempat final Piala Asia Futsal 2022.
Baca juga:
Iran disebut pelatih Timnas Futsal Indonesia, Hector Souto memikul beban. Mengingat berstatus juara bertahan.
Apalagi mereka menyandang predikat Raja Futsal Asia dengan 13 gelar yang diperoleh.
Vahid menegaskan bahwa meski Iran memiliki jarak prestasi yang jauh dengan negara lain, mereka tetap menatap final ini sebagai tantangan baru yang harus dimenangkan secara fair play.
"Jumlah trofi dan gelar juara yang dimiliki Timnas Futsal Iran memang sangat berbeda (jaraknya) dengan negara-negara lain. Kami memiliki jarak dengan tim lain. Tapi ini adalah pertandingan. Besok adalah pertandingan baru, hari yang baru, dan trofi yang baru. Kami sangat menghormati pelatih Indonesia, tapi besok kami fokus untuk bermain fair play," tegas Vahid.
Timnas Futsal Iran hanya akan menunjukkan mentalitas juara di laga lain. Seperti halnya telah dilakukan di laga-laga sebelumnya.
"Inilah mentalitas orang Iran, kami selalu ada di sini untuk menjadi juara. Bagi kami, lima pertandingan terakhir yang sudah kami lalui juga adalah final. Dan besok adalah final lainnya. Kami akan mengerahkan seluruh kekuatan kami untuk memenangkan final ini dan menjadi juara," kata pemain andalan Iran, Mohammad Hossein Derakhshani. (*)