Uniknya Fenomena Telur Berdiri di Hari Peh Cun

Raden Yusuf NayamenggalaRaden Yusuf Nayamenggala - Senin, 18 Juni 2018
Uniknya Fenomena Telur Berdiri di Hari Peh Cun

Telur berdiri di hari P eh Cun. (Foto: Instagra @vannywidyanti)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

PADA tanggal 5 bulan ke-5 pada penanggalan di kalender lunar atau imlek, diperingati sebagai hari Peh Cun atau yang juga dikenal dengan hari Festival Perahu Naga.

Konon kabarnya, pada hari Peh Cun, telur ayam dapat berdiri tegak dengan mudah diatas tanah atau permukaan datar tepat pada pukul 12 siang. Uniknya kegiatan itu kerap kali menyertakan masyarakat yang notabene tak memperingati hari Peh Cun itu. Seolah atraksi sulap, mereka beramai-ramai mencoba mendirikan telur yang dibawa. Bahkan MURI pernah mencatatkan rekor mendirikan telur terbanyak.

Mendirikan telur pada perayaan Peh Cun. (Foto: Instagram @sonea_go)

Tentu kamu pasti bingung mengapa telur-telur ayam biasa tersebut dengan mudahnya berdiri dihari Peh Cun. Hal itu ternyata bisa dijelaskan secara ilmiah, salah satunya karena matahari mencapai titik kulminasi terdekat.

Yang dimaksud titik kulminasi disini adalah titik ketika suatu benda langit dalam pergerakannya tampak paling tinggi jika diamati. Dalam konsep populer bagi matahari, titik kulminasi atas dicapai pada pukul 12 siang.

Namun tak selamanya seperti itu, sebenarnya matahari jarang sekali mencapai titik kulimnasi atau posisi tertinggi tepat pada pukul 12 siang. Terkadang lebih lambah atau lebih cepat. Selisih antara sampainya matahari pada titik kulminasi dengan pukul 12 siang dikenal sebagai persamaan waktu.

Nah pada hari Peh Cun, jika kita berbicara masalah ‘dekat’, sebuah pengamatan membuktikan bahwa pada hari Peh Cun itu, Bumi sebenarnya justru tengah bergerak menuju titik aphelion. Yakni posisi terjauh yang bisa dicapai Bumi dan Matahari. Bumi mencapai posisi aphelion sekitar tanggal 4 Juli. Sementara, perihelion sekitar tanggal 3 Januari. Kemudian pada awal Juni Jarak bumi ke matahari melebihi nilai 1 satuan astronomi. Jadi alasan itu tak bisa digunakan sebagai pembenaran mudahnya telur berdiri di hari Peh Cun.

Telur yang dapat berdiri tegak tanpa terguling. (Foto: Instagram @roylukito)

Sementara itu teori yang lainnya yang terkait fenomena telur bediri tersebut adalah Autumnal Equinox. Adalah waktu atau masa telur dapat didirikan pada setiap equinoks khususnya pada musim semi. Equinoks adalah waktu ketika panjang siang dan malam kurang lebih sama-sama 12 jam.

Ekuinox terjadi 2 kali setahun, yakni yang terjadi 20 Maret yang disebut vernam equinox (ekuinoks musim semi). Lalu yang kedua pada sekitar 22 September yang dikenal sebagai autumnal equinox atau equinox musim gugur.

Untuk penamaan eqinoks tersebut berdasarkan pada musim di belahan Bumi utara. Sementara definisi formal untuk equinoks, yaitu masa ketika sumbu rotasi bumi menghadap ke arah 90 derajat dari arah matahari. Oleh karena itu, panjang hari setara di seluruh penjuru Bumi disaat equinoks.

Terlepas dari beberapa teori tersebut, sejumah mitos pun mengiringi fenomena equinoks. Salah satunya berasal dari China. Kabarnya ketika Matahari tepat melintas di garis khatulistiwa dan menyebabkan hari tanpa bayangan, kita dapat dengan mudah membuat telur berdiri jika dibandingkan hari lainnya.

Praktik menyeimbangkan telur di awal musim semi itu pun lantas tersebar luas di China. Seperti yang ditulis dari South China Morning Post, hal itu terjadi pada saat Bulan dan Bumi dalam garis sejajar. Garis sempurna itu menghasilkan keseimbangan kekuatan sempurna yang dibutuhkan untuk memungkinkan hal itu terjadi.

Tapi pada 19 Maret 1945 menurut laporan majalah Life, Albert Einstein meragukan bahwa equinoks memiliki dampak terhadap keseimbangan telur.

Telur yang berdiri karena fenomena equinoks. (Foto: Instagram @eliser_huang)

Sementara itu Manajer Planetarium dan Program Sains di Hudson River Museum, Marc Taylor justru menyebut hal tersebut sebagai mitos.

“Kamu bisa mencobanya bahkan jika tak sedang equinoks,” jelas Taylor seperti yang dimuat dalam lohud.

Senada dengan Marc Taylor, Frak D Ghigo astronom dari University of Minnesota mengatakan, jika dirinya bisa mendirikan sebutir telur pada hari biasa sama mudahnya dengan hari equinoks.

“Sejauh yang bisa saya katakan tak ada kaitan antara fenomena astronomi ini dengan mendirikan telur. Ini hanya masalah bentuk telur dan permukaan meja,” ujarnya

Lalu Ghigo juga menambahkan, “Mood dan ketekunan penyeimbang memiliki pengaruh besar pada tingkat keseimbangan. Jika seseorang tak sabar atau gugup kemungkinannya rendah, lain hal jika banyak berlatih kemungkinannya akan jauh lebih besar. ” (ryn)

Baca juga yuk artikel menarik yang lainnya Zodiak yang Enak Dijadikan Teman Berlibur

#Tradisi #Tradisi Unik
Bagikan
Ditulis Oleh

Raden Yusuf Nayamenggala

I'm not perfect but special

Berita Terkait

Olahraga
Jelang Piala Dunia 2026, Pesawat Timnas Brasil 'Dibaptis' di Bandara Rio de Janeiro
Pesawat timnas Brasil menjalani ritual baptis di Bandara Galeao, Rio de Janeiro. Hal ini menjadi tradisi yang biasa dijalani di Brasil.
Soffi Amira - Selasa, 02 Juni 2026
Jelang Piala Dunia 2026, Pesawat Timnas Brasil 'Dibaptis' di Bandara Rio de Janeiro
Tradisi
Tradisi Toron, ketika Orang Madura Pulang Beramai-Ramai untuk Perayaan
Tradisi Toron diperkirakan telah ada bahkan sebelum era abad 19.
Dwi Astarini - Selasa, 26 Mei 2026
Tradisi Toron, ketika Orang Madura Pulang Beramai-Ramai untuk Perayaan
Tradisi
Makna Tradisi Grebeg Gunungan Idul Adha di Yogyakarta, Simbol Syukur dan Berkah
Tradisi Grebeg Gunungan Idul Adha di Yogyakarta menjadi simbol syukur, berbagi rezeki, dan perpaduan budaya Jawa dengan ajaran Islam yang terus lestari hingga kini.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 13 Mei 2026
Makna Tradisi Grebeg Gunungan Idul Adha di Yogyakarta, Simbol Syukur dan Berkah
Tradisi
Tradisi Hadrat di Maluku, Warisan Islami yang Hidupkan Semangat Idul Adha
Tradisi Hadrat menjadi warisan budaya Muslim Maluku yang terus dilestarikan saat Iduladha. Perpaduan selawat, rebana, dan nilai persaudaraan.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 13 Mei 2026
Tradisi Hadrat di Maluku, Warisan Islami yang Hidupkan Semangat Idul Adha
Lifestyle
4 Ide Rayakan Paskah Bersama Keluarga Dengan Hangat dan Sederhana
Meskipun Paskah identik dengan prosesi ibadah khidmat di gereja, masyarakat dapat menghadirkan suasana syukur secara sederhana di dalam rumah
Angga Yudha Pratama - Jumat, 03 April 2026
4 Ide Rayakan Paskah Bersama Keluarga Dengan Hangat dan Sederhana
Tradisi
Tradisi Injak Bumi, Ritual Sakral Bayi-Bayi Jambi Seberang Setelah Salat Id
Tradisi ini khusus diperuntukkan bagi bayi yang sedang belajar berjalan. Doa yang dibacakan memohon perlindungan Allah dari gangguan gaib
Wisnu Cipto - Minggu, 22 Maret 2026
Tradisi Injak Bumi, Ritual Sakral Bayi-Bayi Jambi Seberang Setelah Salat Id
Tradisi
Binarundak, Tradisi Memasak Nasi Jaha yang Menghangatkan Kebersamaan di Sulawesi Utara
Proses memasak ini biasanya dilakukan secara bersama-sama oleh warga, sehingga menciptakan suasana kebersamaan yang hangat di tengah masyarakat.
Frengky Aruan - Kamis, 19 Maret 2026
Binarundak, Tradisi Memasak Nasi Jaha yang Menghangatkan Kebersamaan di Sulawesi Utara
Lifestyle
Festival Meriam Karbit, Tradisi Dentuman Khas Lebaran di Pontianak, Sudah Berlangsung Ratusan Tahun
Festival Meriam Karbit merupakan salah satu tradisi khas masyarakat di Kalimantan Barat yang selalu meriah digelar menjelang dan saat perayaan Idulfitri.
Frengky Aruan - Minggu, 15 Maret 2026
Festival Meriam Karbit, Tradisi Dentuman Khas Lebaran di Pontianak, Sudah Berlangsung Ratusan Tahun
Tradisi
Tradisi Ngejot di Bali: Cara Warga Berbagi Makanan dan Menjaga Toleransi saat Ramadan
Tradisi Ngejot di Bali menjadi simbol toleransi antarumat beragama saat Ramadan. Warga berbagi makanan kepada tetangga sebagai bentuk silaturahmi dan kebersamaan.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 14 Maret 2026
Tradisi Ngejot di Bali: Cara Warga Berbagi Makanan dan Menjaga Toleransi saat Ramadan
Tradisi
Meugang, Tradisi Berbagi yang Menghangatkan Ramadan di Aceh
Meugang merupakan tradisi masyarakat Aceh dengan menyembelih dan memasak daging, umumnya sapi atau kambing, untuk disantap bersama keluarga.
Dwi Astarini - Rabu, 04 Maret 2026
Meugang, Tradisi Berbagi yang Menghangatkan Ramadan di Aceh
Bagikan