Unggah Foto Penuh Rambut Tubuh untuk Kampanye Januhairy, Kamu Berani?

Dwi AstariniDwi Astarini - Rabu, 16 Januari 2019
Unggah Foto Penuh Rambut Tubuh untuk Kampanye Januhairy, Kamu Berani?

Januhairy jadi cara menyebar virus body positivity bagi perempuan. (foto: Instagram @janu_hairy)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

APA sih standar cantik seorang perempuan? Secara umum, cantik identik dengan kulit yang putih mulus, hidung mancung, hingga rambut panjang. Dengan standar itu, banyak perempuan yang kemudian merasa tidak cantik.

Semisal ketika kulit tidak putih, perempuan merasa enggak cantik. Demikian juga jika terlahir dengan postur hidung yang enggak bangir, perempuan bisa langsung merasa tak menarik.

Padahal, cantik atau tidaknya kamu tidaklah harus bergantung pada suatu stereotipe tertentu. Hal itulah yang coba dibuktikan lewat kampanye Januhairy.

Apa ya itu?

1. Gerakan untuk tidak mencukur rambut pada wanita

januhairy
Januhairy mendorong perempuan untuk enggak mencukur rambut tubuh. (foto: Instagram @jegercecilia)

Selama ini, perempuan identik dengan tubuh yang mulus tanpa rambut. Perempuan dengan rambut tubuh bahkan dianggap 'aneh'.

Bertentangan dengan anggapan umum itu, Januhairy malah mendorong perempuan untuk tidak mencukur rambut dan menumbuhkannya. Enggak sekadar menumbuhkan rambut tubuh, tapi ada makna sosial di baliknya. Mereka yang ikut dalam kampanye ini akan ikut mengumpulkan uang untuk amal.


2. Dipelopori Laura Jackson

januhairy
Lisa Jackson memulai Januhairy setelah untuk menginspirasi sesama perempuan. (foto: Instagram @janu_hairy)

Dikutip dari People.com, kampanye ini awalnya dimulai Laura Jackson, seorang mahasiswa drama di Universitas Exeter di Inggris. Ia menginisiasi kampanye ini setelah melihat perbedaan perasaannya ketika dia menumbuhkan rambut tubuhnya untuk sebuah peran.

Saat itulah, Jackson mewujudkan apa yang ia rasakan. “Saya menyadari bahwa masih banyak yang harus kita lakukan untuk dapat saling menerima secara penuh dan benar. Lalu aku memikirkan Januhairy dan berpikir aku akan mencobanya. Setidaknya ini awal," ujarnya.

Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Bagikan