Temui Novel di KPK, Amnesty International Dituding Kongkalikong Gembosi Jokowi

Wisnu CiptoWisnu Cipto - Senin, 29 April 2019
Temui Novel di KPK, Amnesty International Dituding Kongkalikong Gembosi Jokowi

Fransisco Bencosme dari Amnesty Internasional bersama Novel Baswedan (MP/Ponco Sulaksono)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Perwakilan Amnesty International Amerika Serikat (AI USA) untuk wilayah Asia Pasifik, Francisco Bencosme, telah mendatangi KPK dan menemui Novel Baswedan untuk mendalami kasus serangan air keras. Namun, Amnesty Internasional dikritik seharusnya juga mengusut kasus pelanggaran HAM masa lalu yang terjadi di Indonesia.

"Ekspresi ini terlalu berlebihan, seharusnya AI USA mengawal kasus pelanggaran HAM massa lalu (di Indonesia) yang belum tuntas," kata Direktur Movement Circle Abdullah Kelrey kepada MerahPutih.com di Jakarta, Senin (29/4).

Penyidik KPK Novel Baswedan
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan tiba di Gedung KPK. Foto: MP/Ponco

Menurut Kelrey, korban HAM masa lalu lebih membutuhkan keadilan ketimbang Novel. Alasannya, lanjut dia, teror air keras hanya mengorbankan Novel Baswedan seorang diri, tidak berpengaruh kepada masyarakat banyak.

"Beda dengan kasus pelanggaran HAM massa lalu yang mengorbankan banyak orang, jadi aneh lihatnya. Terlalu lebay alias genit," sindir Kelrey.

Kelrey menilai, kasus pelanggaran HAM masa lalu diduga melibatkan para petinggi bangsa. Apalagi, korbannya sangat banyak dan efeknya terasa hingga sekarang. "Kasus HAM massa lalu itu banyak pejuang-pejuang demokrasi yang jadi korban, kok Amnesty International diam dan enggak kawal sampai tuntas," tanya Kelrey.

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi (Foto: OJI/Humas/Setkab)

Movement Circle juga menyoroti masalah ini dari sisi kepentingan politik. Menurut dia, kasus Novel ini sudah masuk di ranah politik. Apalagi Indonesia kini tengah berlangsung konstelasi Pilpres yang senstif.

"Pesanan politik kelompok tertentu makanya digoreng. Padahal kalau kita lihat, enggak ngefek, alias enggak penting amat bagi kemaslahatan warga negara Indonesia," tutur dia.

Lebih jauh, Kelrey melihat ada kepentingan politik AS dan Kelompok Orde Baru, yang kini tidak suka dengan kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi. "Itu poinnya tidak ada yang lain," tutup dia. (Knu)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Wisnu Cipto

Jurnalis dan penulis profesional selama dua dekade di industri media, mulai dari koran, televisi, hingga konten digital. Lulusan FISIP UI terlatih merangkai kata-kata terkait isu sosial-budaya-politik-hukum secara akurat dan relevan bagi pembaca, dengan kiblat kode etik jurnalistik dan verifikasi-verifikasi-verifikasi ... Pemegang sertifikasi kompetensi dari Lembaga Pers Dr.Soetomo (LPDS), yang coba terus belajar berkarya dengan 'hati'.
Show More
Follow Me
Bagikan